Artikel

Seribu Cerita Dari Negeri Indonesia

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada ombak kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Kata orang tanah kami tanah surga
Tombak kayu dan batu jadi tanaman

(Koes Plus)

Sungguh membayangkan negeri seperti itu adalah negeri yang makmur dengan rakyat sejahtera. Dengan tanahnya yang subur, bahkan tombak kayu dan batupun bisa menjadi tanaman.

Membayangkan Indonesia berpuluh-puluh tahun yang lalu, sebuah cerita yang sering saya dengar dari kakek saya, adalah sebuah negara yang indah negara kaya. Bahkan karena kekayaannya itu pula, Indonesia menjadi rebutan negara-negara asing yang berhasil menjajah alam Indonesia selama berabad-abad.




Namun disayangkan, kata kemerdekaan yang diucapakan dengan mengorbankan darah dan peluh dari para pejuang dahulu seolah sia-sia. Kekayaan alam yang berlimpah pun kini sedikit demi sedikit semakin terkikis. Secara lahir, Indonesia telah terlepas dari belenggu penjajahan. Namun secara tak kasat mata, sesungguhnya jiwa, pikiran dan hati rakyat Indonesia masih terjajah bahkan terbelenggu.

Apa yang membuat saya bangga dengan Indonesia ???
Negara yang kini adalah negara yang kedaulatannya seakan telah tergadai. Tergadai oleh kebijakan-kebijakan asing demi mendapatkan kucuran dollar yang ujung-ujungnya bukanlah untuk rakyat tetapi masuk kantong pribadi. Tak mampu menentukan arah kebijakan kecuali atas perintah antek asing. Perekonomian negara tetap berjalan ditempat.

Apa yang membuat saya bangga dengan Indonesia ???
Sebuah negara yang bertuhankan uang, bertuhankan hawa nafsu. Na'udzubillah. Bukan hanya barang yang kini diperjualbelikan, tetapi juga keadilan, hukum, kekuasaan, skenario politik kini dengan mudah di atur asalkan punya duit segepok.
Sebuah negara yang bertuhankan hawa nafsu, dengan dalih kesenian dan budaya. Dengan dalih kebebasan pers, kebebasan berekspresi. Banyak tubuh-tubuh telanjang yang bergentayangan dalam dunia kotak atau televisi. Tak dapat dipungkiri, kebebasan yang mereka gaungkan itu pula, yang akan menjadi boomerang bagi diri mereka sendiri.

Apa yang membuat saya bangga dengan Indonesia ???
Soe Hok Gie –seorang aktivis di tahun 1960-an– pernah mengatakan bahwa politik itu kotor. Melihat panggung politik saat ini, sepertinya bukanlah hal yang salah jika mengatakan memang politik itu kotor. Setidaknya itulah yang nyata terlihat dari para elite politik yang lalu lalang pada kancah politik Indonesia. Entah mereka lupa atau sama sekali tidak tahu, apa itu hakikat berpolitik. Kegiatan yang seharusnya ditujukan demi kemaslahatan ummat, karena sesungguhnya mereka adalah pelayan rakyat, pembawa aspirasi rakyat. Tetapi kini yang terjadi, mereka adalah raja dan rakyat adalah pelayan. Raja yang sibuk dengan tahtanya, yang bertabur emas hingga kilaunya menghalangi mata mereka untuk menatap sejenak penderitaan rakyat. Tak ada lagi amanah, hanya bagaimana memikirkan cara untuk tetap langgeng dalam kekuasaannya pun dengan menyikut lawan dan menusuk kawan. Sedangkan raja semestinya, kini harus bergelut melawan kerasnya kehidupan ditengah kebohongan-kebohongan para pemimpin yang kerap mengumbar angin surga.

Teringat akan Baginda rasul, yang kala menyebut namanya menimbulkan rindu yang teramat dalam. Baginda Rasul, seseorang pemimpin sejati pemimpin ummat sepanjang masa. Pemimpin yang dekat dengan rakyat yang selalu memikirkan nasib ummatnya bahkan di akhir hayatnya. Pemimpin yang dicintai rakyat, pemimpin yang adil dan bijaksana. Seluruh rakyat tenteram di bawah kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang tak memerlukan berpuluh-puluh pengawal untuk mendampinginya saat bepergian. Seorang pemimpin yang menangis kala melihat rakyatnya menderita. Seorang pemimpin yang tak memerlukan istana mewah dengan pagar tinggi menjulang dan pengawal di setiap sudut. Seorang pemimpin yang menjadi uswatul hasanah bagi seluruh ummat di muka bumi.

Apa yang membuat saya bangga dengan Indonesia ???
Di tengah hiruk pikuk keangkuhan yang menjadi warna polusi ibukota. Di tengah kebisuan mendengar jerit tangis anak negeri, akibat ketidakadilan dan kemunafikan. Kala kebisuan menimbulkan kriminalitas tak berkesudahan dengan nyawa yang menjadi tak berharga.

Apabila kini, bencana datang bertubi-tubi. Menghentak kesadaran manusia. Siapa yang patut disalahkan????
Mungkin kami lupa dan lalai pada perintah Tuhan untuk menjaga dan melestarikan alam. Mungkin kami terlalu lena akan warna warni kota yang semakin tua. Mungkin terlalu lama kami berpaling dari Tuhan malah asyik menggunggat Tuhan. Mungkin kami terlalu menghamba pada uang hingga rela menghujam rasa keadilan bagi yang semestinya memiliki. Mungkin hati kami terlalu beku untuk menatap bahwa masih ada saudara kami yang menggigil kedinginan di sudut tembok sedangkan kami terlelap dibalik hangatnya selimut. Mungkin hati kami terlalu beku mendengar tangis dan keluh saudara kami sedangkan tawa kami membahana di tengah gedung mewah.

Sepenggal syair dari Ebit G. Ade berjudul berita kepada kawan, dapat menjadi renungan untuk kita semua :

Barangkali disana ada jawabnya
Mengapa tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan telah bosan melihat tingkah kita
Yang selalu bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Wallahua'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar