Artikel

Suara Mereka Menembus Langit Biru


Tubuh-tubuh berkerumun
Dengan identitas nasionalisme
Tumpah ruah berbalut debu
Bermandikan gas airmata dan kembang api
Berbicara tentang keadilan
Tentang aku, tentang kita, tentang semua
Kita yang terinjak-injak kebijakan
Kita yang larut dalam halusinasi palsu
Kita yang merintih dalam sepi

Suara mereka menembus langit biru
Tempat kita bernaung
Tempat kita mengadu
Tapi tak pernah menyentuh apalagi menembus
Pagar milyaran usang berlapis debu

Siapa yang akan terperangah ?
Kala jutaan, milyaran bahkan triliyunan
Lebih mengindahkan

Siapa yang akan tersentuh ?
Kala diri tiada lagi pernah mengaduh atau mengeluh
Tapi benarkah ?
Mungkin ada yang salah
Jika raga tak mengeluh tapi hati tiada bersyukur
Hingga aku, kita dan semua
Menjadi alas keluhan bertopeng kerakusan

Terima kasih kawan
Kau yang bergerak dan lantang bersuara
Meski derai cacian jua kau terima
Entah kau di jalur kebenaran atau kebathilan
Yang pasti, tiada yang sia-sia
Jika berlandaskan cinta

31 Maret 2012

Ibu Tua Penjual Nasi Bungkus

Pekat malam bergelimang
Namun di sana terang senantiasa benderang
Menaungi hilir mudik ayunan langkah
Mengarungi udara dan debu

Malam itu, stasiun Tugu Jogjakarta
Yang tetap pada kemegahannya

Iringan kereta menggesek panas rel tua
Menciptakan irama bak penyanyi tua

Malam itu, di sudut dinding kelu
Suara-suara membahana  pada suatu ruang
Dan membisu di ruang lainnya

Ibu tua penjual nasi bungkus duduk termangu
Serak suara di antara liur yang tersisa
Memanggil orang sekedar untuk mendekat
Menukar lusuh uang kertasnya
Dengan sebungkus nasi buatannya

Dan di malam itu
Setelah langit puas mencurahkan air rahmatnya
Dan ibu masih tergugu
Lantang suaranya kian parau

Orang lalu lalang
Namun siapa yang akan menolehnya
Sibuk kesana sibuk ke sini
Sedang di sana sini
Restoran asing tetap selalu mengindahkan mata

Di malam itu
Ketika sebuah kisah terjalin
Ibu Tua Penjual Nasi Bungkus
Sendiri di alam sunyi
Tiada yang memanggilnya istri
Tiada yang memanggilnya ibu

Alam adalah sahabatnya
Dan malam adalah perjuangan
Sehelai demi sehelai rupiah berharap di raihnya
Untuk bekal esok menatap mayapada

Oh, ibu Tua Penjual Nasi Bungkus
Hanya di sini kaki berpijak
Sementara khayalanmu menyibak tirai batas
Udara di sini mungkin bukan tempat ternyaman
Tapi udara di sana menjadi asing
Dan tak tersentuh

Oh, ibu Tua Penjual Nasi Bungkus 
Matamu terus berkaca-kaca
Entah ada apa di sana
Apakah sejumput rindu telah tertanggung ?
Atau engkau sedang menahan segunung asa ?
Ku faham inginmu bu..

Oh, ibu Tua Penjual Nasi Bungkus 
Bersabarlah menatap dunia
Seperti kau sabar berjuang untuk hidup
Masa mudamu yang kau tukar dengan ketekunan

Mungkin aku tak bisa setangguhmu
Mengurutkan tahun menjadi puluhan 
Dan kau bertahan di sini 
Sejak tiga puluh tahun yang lalu

Oh, ibu Tua Penjual Nasi Bungkus 
Citamu telah di genggam Tuhan
Bersabarlah
Bertawakkallah
Segera, kini atau nanti
Asa-mu akan kau raih

23 Maret 2012

Idola Buntut

Semakin marak seseorang mudah menjadi idola (baca:selebritas). Idola yang selalu di elu-elukan. Bak bintang, meskipun tidak selalu membawa cahaya terang. Gerak-geriknya seperti magnet yang menyihir orang-orang yang menyukainya. Mungkin jika tidak ada tuhan, idolanya itu bisa juga di sembah. Bukan terlalu ekstrem mengatakan seperti itu, memang terlihat dari fakta yang terjadi. Idola di agungkan bak tuhan. Menangis, histeris hingga "lupa diri" tatkala memendam rasa ingin bertemu idolanya. 

Tapi yang menjadi pertanyaan serta yang selalu saya amati sekarang adalah apa benar mereka itu sungguh-sungguh mengidolakan ??

Karena yang banyak yang saya lihat, ketika seseorang mengidolakan selebriti, terkadang bukan karena memang ia mengenal sungguh-sungguh siapa yang ia idolakan, bagaimana karyanya, siapa latar belakangnya, apakah berdampak positif bagi dirinya. Tetapi kebanyakan mereka adalah karena ikut-ikutan atau mengekor atau membuntuti, tidak keren jika tidak ikut mengidolakan. Seperti takut jika tidak update dengan berita artis X jika tidak ikut menongkrongi bagaimana kabar terbarunya, lagu baru yang di nyanyikannya, sedang syuting film apa, sedang pergi kemana dia dan aktivitas-aktivitas lainnya. Istilah kerennya "trending topic", yang menjadikan sesuatu menjadi di kenal luas. 

Misalnya satu lagu akan menjadi sukses, itu berawal dari entah siapa yang memulainya yang kemudian menjadi mata rantai hingga hampir seluruh orang mengetahui lagu tersebut dan cenderung menyukai karena orang lain pun suka.

Setelah urusan mata rantai selesai, maka peran heboh media yang bisa di bilang sangat hebat, membuat sesuatu menjadi seketika terkenal. Terus menerus menampilkan pemberitaan sesuatu yang sedang booming di masyarakat, dari hanya sekelompok orang yang tahu maka semua menjadi tahu.

Parahnya, tidak semua berita yang di sajikan media itu benar adanya atau tokoh yang di sajikannya itu benar-benar seseorang yang pantas di idolakan, terlebih media yang memiliki suatu kepentingan khusus untuk membuat pemikiran kaum muda hanya berkutat pada persoalan duniawi atau terkesan hanya mengekor dan mengabaikan sesuatu yang paling penting yaitu mengenai akhirat. Di segala usia, fenomena itu merajalela. Bahkan ada beberapa kasus tewasnya para fans akibat berdesak-desakan untuk melihat aksi para idola. Atau mereka yang rela mengantri jauh-jauh hari untuk mendapatkan tiket konser sang idola yang merasa belum tenang jika belum mendapat tiket (heeyy... kenapa jadi tiket yang membuat hati tenang, di kemanakan posisi Allah ?). Atau para fans yang rela sampai bunuh diri, karena begitu "setianya" pada sang idola yang sebelumnya meninggal dengan cara bunuh diri. Ckckck.....

Tidak bisa di terima secara logika juga jika seseorang yang secara terang-terangan terlihat di media suka melakukan perbuatan yang tidak senonoh atau berbuat kriminal menjadi seorang idola. Okelah, mereka memiliki suatu karya yang baik di luar bagaimana pribadi mereka. Tapi jika di lihat sekarang, jika seseorang sudah cenderung mengidolakan, maka semua yang di lakukan idolanya bisa menjadi sesuatu yang baik meskipun sebenarnya tidak.

Mungkin tidak semua orang berfikir untuk mengikuti bahkan hingga tindak tanduk sang idola, tapi itu hanya minoritas di banding lainnya.

Tidak patut menyalahkan, karena mungkin bagi kaum muda masih tersisa kegalauan pencarian jatidiri melalui idola yang patut di tiru. Di sisi lain, keterdesakan masyarakat akan sesuatu hal yang akan mengganggap aneh jika lain persepsi.


Pada masa pra remaja, saya pun pernah merasakan seperti yang saat ini terjadi. Menangis karena tidak berhasil mendapatkan majalah yang di dalamnya ada berita terbaru mengenai idola saya atau rela hingga larut malam hanya untuk melihat aksi idola di televisi. Alhamdulillah itu tidak berlanjut hingga sekarang, saya pun memaklumi keadaan saya dahulu sebagai seorang anak yang sedang dalam masa pencarian. Dan benar, saya pun merasa saya menyukai idola tersebut karena mengekor kawan-kawan saya yang tiap hari selalu membicarakan selebritas idola yang sedang tren. 

Perlahan, memberikan input-an yang kepada siapa saja, adik, sahabat, saudara yang saat ini masih "salah" idola untuk membantu menelaah baik atau buruknya seseorang yang akan atau telah di jadikan idola, jadi bukan sekedar idola buntut. Siapapun dia, bukanlah berdasarkan fisik atau ketenaran semata tetapi akhlaq yang bisa di teladani dan kepatuhan kepada Rabbnya, Allah Ta'ala.


Semoga tulisan berguna menjadi jembatan pengetahuan dari Allah sebagai pengingat bagi diri pribadi khususnya dan kaum muda yang saat ini sedang "lupa".

"Kamu akan mengikuti perikau orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan memasukinya. "Para sahabat lantas bertanya, "Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah ?" Beliau menjawab, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?"
HR. Bukhari

"Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah."
QS. Al Ahzab : 21

Allahua'lam

23 Maret 2012

It's Amazing Right ??

Sungguh menakjubkan jika kita merasa hanya sendiri saja ketika segala masalah menerpa padahal sejatinya kita tak sendiri. Ketika kita ingin orang lain tahu bahwa kita sedang bermasalah, bahwa kita ingin di dengar, ingin di perhatikan. You know what ?? Ada Allah di dekat kita yang sering tak di sadari, banyak pertolonganNya yang singgah, tepat pada saat kita berucap Alhamdulillah bahwa Dia telah memeluk kita dengan cintaNya dan membantu kita menyelesaikan masalah kita. It’s amazing right ??

Bahwa dengan hadirnya seorang pendengar yang baik, yang mau mendengar keluh kesah kita adalah perantara Allah untuk menolong kita. Bahwa dengan adanya ucapan-ucapan berupa nasehat adalah perantara Allah untuk mengingatkan kita.

Kita tidak sendiri, memang tidak sendiri. Bahkan jika nanti kita mati dan sendiri di alam kubur, akan ada amal shalih yang menemani. Kita tidak pernah sendiri, selama masih ada kebaikan yang tersebar. Selama masih ada telinga yang ingin lebih banyak mendengar. Selama masih ada tangan yang terulur. Maka kita tidak pernah sendiri. It's amazing right ??

Seorang muslim jika merasa sendiri, maka yakin ada Allah yang menemani. Zikir saja, resapi dalam-dalam. Rasakan kehadiranNya turut membantu kita menyelesaikan segala tugas dan persoalan hidup.

Semua terasa ringan bila Allah ada di sisi. Semua akan bernilai ibadah jika menghadirkan Allah dalam niat kita. Meskipun akan ada pihak yang di korbankan tapi jika untuk kebaikan dan untuk mencari keridhoan Illahi, semoga Allah memudahkan segala jalan untuk kebaikan.

Ya, hanya dengan Allah. Tidak perlu repot-repot mencari kesana-sini jalan keluar dari permasalahan. Sapa saja Allah, biarkan Allah menunjukkan jalannya.

Mungkin semua adalah proses. Proses menuju keyakinan bahwa Allah adalah segalanya. TanpaNya kita lemah tak berdaya.

Malu rasanya jika kita meratapi nasib yang kita hadapi sementara di tempat lain banyak orang yang tetap tersenyum meskipun Allah memberinya banyak kekurangan. Hebatnya mereka adalah keyakinan yang terpatri bahwa Allah bersama mereka. Beban mereka terasa ringan. Rasa syukur yang selalu di hadirkan. Dunia bukan penghalang untuk jalan akhirat yang panjang membentang.

It’s so amazing.. with Allah …

Semoga kita selalu dapat merasakan sesuatu yang amazing bersama Allah. Apapun kondisinya. Merasai keindahan takdir Allah.

InsyaAllah

Allahua’lam

18 Maret 2012

Berfikir : It's Amazing

Kemarin, saya ada janji dengan seorang kawan untuk menemaninya ke suatu tempat. Awalnya dia memberitahu akan datang agak siang dengan alasan akan mengantar ibunya ke luar kota. Ok, saya maklumi dan saya mau menunggu. Selang beberapa lama, saya tunggu namun tidak ada kabar. Saya telpon dan mengirim pesan namun tak ada respon. Alhamdulillah, sebelumnya saya meminta seorang kawan lain untuk mendampingi saya sehingga tidak terlalu merasakan kejenuhan yang sangat. Justru waktu menunggu saya manfaat dengan kawan saya untuk melepas rindu, berlagak seperti orang aneh dan cerita panjang lebar ngalor ngidul. It's amazing right ?? 

Di saat terlintas rasa bete karena lelah menunggu sesuatu yang tidak pasti, tapi ada seorang kawan yang bisa menghibur kita dan setia menemani. Keindahan dalam pertalian sahabat terungkap justru pada saat-saat kesempitan dan membutuhkan.

Kemudian setelah menunggu lama, akhirnya saya memutuskan melanjutkan agenda saya selanjutnya. Dan saya pun berpisah juga dengan kawan yang setia menemani saya (kalau tidak ada dia, mungkin saya akan jadi makhluk paling kalem sedunia). 

Saya tiba di tempat kedua yang menjadi tujuan saya. Sebenarnya saya agak ragu untuk menghadiri kegiatan selanjutnya dan benar saja, ketika saya berada hanya beberapa langkah dari tempat kegiatan saya yang tadinya akan berlangsung, terlihat seorang kawan yang keluar dan mengatakan bahwa agenda minggu ini ditiadakan karena ada urusan. Glekk. 

Alhamdulillah rasa kesal tak sempat menghampiri saya. Hanya sedikit rasa kecewa. Sama saja ya ?? 
Tapi begitulah, akhirnya saya memutuskan langsung balik arah dan menunggu mobil untuk pulang ke rumah. 

Sepanjang perjalanan saya berfikir, terlintas dua kekecewaan. Pertama, tentang janji yang tidak terpenuhi. Yang belakangan saya berfikir, kawan saya itu tidak bisa memenuhi janji karena mengantar ibunya. Meski saya harus menunggu kabar agak lama, saya berusaha memaklumi. Mungkin jika saya jadi dia pun saya akan berbuat yang sama. Saya akan memilih seorang yang berharga dalam hidup saya, seorang yang melahirkan saya dan mencurahkan tiap nafasnya untuk mendoakan saya.

It's amazing right ?? Di balik kecewa yang terlintas, Allah masih menuntun saya untuk berfikir positif. Berusaha untuk menjadi seseorang yang menepati janji dan bersabar dalam kebaikan. Berusaha untuk mengambil hikmah dari bakti seorang anak yang di tunjukkan kawan saya.

Kekecewaan yang kedua, yaitu ketika agenda selanjutnya ternyata di tiadakan padahal saya sudah berusaha datang. Entahlah, semoga kekecewaan saya tidak menghanguskan niat baik saya untuk tetap datang pada agenda menuntut ilmu.

It's amazing right ?? Saya belajar untuk tetap ikhlas dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Dan saya yakin segala niat saya sudah di catat Allah sehingga tidak berakhir sia-sia. Saya pun yakin, tiada sesuatu yang sia-sia jika kita meniatkannya karena Allah. InsyaAllah.

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah, kembali saya mendapatkan sesuatu yang amazing menurut saya. Seluruh penumpangnya wanita, termasuk supir. It's amazing right ?? Buat saya, sangat. Saya pun merasa nyaman sekali berada dalam mobil itu. Fikiran saya berandai-andai. Jika selalu seperti ini atau ada peraturan tentang angkutan umum khusus wanita, maka tidak akan ada lagi ketakutan yang akan di rasakan wanita dalam berkendara. Meskipun wanita jika sedang bergerombol akan menimbulkan kegaduhan yang amat sangat tapi tidak menghalangi kenyamanan. Bersenggolan, bersentuhan, berbicara pun tidak risih. Bahkan mungkin jika ada keperluan yang mengharuskan untuk naik angkot pada malam hari, saya rasa akan nyaman saja jika ada angkot khusus wanita. Mungkin. Semoga saja kemungkinan-kemungkinan itu mampu terealisasi nanti. Entah kapan.

Mungkin dalam setiap kekecewaan, saya akan berusaha menggali ke-amazing-an di dalamnya. Yang membuat saya berfikir lebih dalam sehingga ada hikmah-hikmah yang menambah khazanah perilaku saya, insyaAllah.

18 Maret 2012

Hatiku Bagai Secarik Tisu

Hatiku bagai secarik tisu
Rapuh kala angin meniup
Luruh kala tangan meremasnya
Kotor kala debu menyinggahinya

Ooh... Mungkin hatiku kini sedang rapuh
Mudah luruh dan kotor

Mungkin ini hanya suatu peralihan
Seperti siang yang berganti malam
Atau panas yang berganti hujan

Mungkin aku harus nikmati ini
Dan ku kecup dalam-dalam kerapuhannya

Ku harus melewati kerapuhan
Ketika ketegaran akan menyapa nanti
Sejenak atau beberapa jenak lagi
Layaknya karang di tengah lautan

Tuhan, aku ingin mencintaiMu
Bahkan di antara kerapuhan hati karena terhimpit harapan
Aku ingin mencintaiMu
Meski dosa terus menggerayang
Mendaki hati yang tak selalu kokoh

Tuhan, aku ingin mencintaiMu
Di antara hati yang tersekat

Tuhan, aku juga  ingin di cintai
Cinta makhluk yang mencintaiMu
Bukan cinta dalam balutan kata-kata

Maaf bila kini hatiku bagai secarik tisu


18 Maret 2012

Kamu Cantik, Tapi....

“Aneh deh sama status teman kamu.” Kata Faiz sambil merengut mendekati kursi Naya.

“Teman aku yang mana Iz ? Emang statusnya bagaimana sampai bikin kamu bĂȘte ?” Naya balik bertanya.

“Bukan bĂȘte sih. Hanya merasa aneh saja. Itu tuh, si Raina. Statusnya itu isinya tentang wajah seseorang yang cantik atau tampan tapi tidak pantas untuk di pamerkan.” Faiz menjelaskan kepada Naya dengan tetap merengut.

“Maksudnya kamu, di pamerkan bagaimana Iz ? Aku ga ngerti.” Naya yang sedang fokus mengetik laporan bulanan kemudian menoleh ke arah Faiz.

“Yaa.. contohnya di jadikan foto profil facebook atau menaruhnya di internet.”

“Ooh gitu toh. Aku bisa jelasin ke kamu. Karena aku juga pernah merasa aneh sama dia.” Naya hendak berbagi cerita.

“Gimana Nay ?”. Faiz penasaran dengan penjelasan Naya.

“Iya, sebelumnya aku sempat kesal sama Raina. Tiap kali ada yang menaruh foto dia ke profilnya, selalu dia hapus. Aku sampai berfikir. Ini anak kok bisa segitunya. Apa dia ga berfikir, kalau orang yang menaruh fotonya itu akan tersinggung atau kesal…”

“Terus apa kata Raina ?” Faiz memotong penjelasan Naya.

“….. Dia bilang, itu hak dia untuk tidak mempublikasikan dirinya ke dunia maya. Dia menghindari yang namanya cyber crime dan fitnah yang di timbulkan jika dia memasang foto dirinya. Untuk hal yang satu itu, dia amat kekeuh sama prinsipnya. Kalau memang mau tahu orangnya kan  bisa bertemu langsung tapi bukan sengaja di pamerkan. Kata dia begitu ” Jelas Naya.

“Eeemm.. ga salah sih apa kata Raina. Tapi kan kalau wajah itu ga termasuk aurat Nay ? Jadi ga papa donk kalau kita pasang di profil atau internet.” Faiz terlihat masih penasaran.

Naya yang sudah mulai berjilbab sejak beberapa bulan lalu seperti menyetujui pendapat Faiz. Namun setelah beberapa saat, ia ingat perbincangannya dengan Raina kemarin.

“Aku hanya menyampaikan apa kata Raina. Karena aku pernah berdiskusi dengan dia.”

“Apa kata Raina, Nay ?”

“Memang aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Tapi seperti yang termaktub dalam Al Qur’an dalam surah Annur ayat 31 yang menyuruh kita menahan pandangan kita. Memang wajah itu bukan aurat. Tapi wajah yang menarik yang terlihat itu otomatis akan menimbulkan "rasa" jika di lihat oleh lawan jenisnya. Karena anak panah iblis itu berasal dari pandangan. Dan seperti kata pepatah, dari mata turun ke hati. Dan dari hati semuanya bermula. Jika tidak bisa menahan akan menimbulkan rasa yang tidak baik.” Naya mengulang apa yang di bicarakan Raina kemarin dengannnya.

“Mungkin kita bisa bilang biasa saja walaupun sudah melihat. Tapi bagaimana dengan yang lain. Apakah bisa menahan pandangan dan tidak menimbulkan nafsu ?” Naya seperti tersihir dengan kata-kata Raina yang ia ulangi kepada Faiz.

"Raina bilang kepadaku seperti itu. Karena sebelumnya dia pernah khilaf, dia berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Dia pernah terpenjara oleh rasa yang tidak semestinya ada akibat bermain dengan hati."

“Aku paham Nay. Aku juga kadang kalau melihat wanita cantik sedikitnya pasti menimbulkan rasa suka  dalam hatiku.” Kata Faiz sambil menerawang.

“Iya Iz. Aku juga sekarang sudah mulai belajar memahami prinsip Raina. Meskipun aku belum bisa sepenuhnya mengikuti apa yang dia lakukan.” Naya melirik profil facebooknya yang masih memajang foto close up dirinya.

“Apa itu hanya berlaku wanita saja Nay ?” Faiz lanjut bertanya.

“Itu juga sempat aku tanyakan kepada Raina dan dia bilang tidak. Sama seperti pria yang akan tertarik dengan wajah wanita, begitu juga sebaliknya. Jika seseorang belum bisa menahan pandangannya, bisa jadi dia akan membayangkan terus wajah orang yang menarik hatinya.”

“Membayangkan …..” Kata Faiz sambil tersenyum nakal.

“Kenapa kamu Iz ? senyum-senyum ga jelas.” Naya melirik Faiz.

“Kalau kita melihat wajah orang yang menarik, itu akan terekam dalam ingatan kita. Bisa jadi itu akan membuat suatu khayalan. Bisa jadi baik. Bisa jadi buruk.” Faiz teringat, ia juga sering terbayang dengan wajah wanita yang ia lihat melalui internet.

“Huuft….” Naya menarik nafas.

“Benar juga sih kata Raina. Mungkin perlahan aku akan mencoba mengurangi ke-narsis-an ku bergaya di facebook.” Naya mulai memahami maksud Raina beberapa waktu lalu.

“Tapi Nay, kalau ga pake foto nanti kalau temanku ga tau kalau itu aku ?”

“Iihh.. emang kamu siapa ? Mau tenar ya ?” Naya tertawa lebar.

Faiz kemudian memonyongkan bibirnya melebihi hidungnya. Dia tidak terima di ledek Naya.

“Biarin. Aku kan mau eksis.” Faiz membela diri.

“Tenang Iz. Kalau mau mencari teman, bisa kok tanpa melihat bagaimana fisiknya. Justru itu akan lebih kelihatan ketulusannya di banding jika pertemanan hanya karena melihat secara fisik.” Naya mendadak menjadi bijak.

“Siap Miss Maria Teguh.” Faiz tertawa dengan posisi tangan di samping kepala memberi hormat.

Tak ayal, sikap Faiz membuat Naya geregetan dan menyambitnya dengan tissue. Mereka pun tertawa bersama. 

Episode Mimpi

Hai.. kamu yang di sana
Iya, kamu
"Sapaku dalam hati"
Saya lihat kamu termenung saja
Ada cahaya di wajahmu
Ada yang berbeda dalam auramu

Entahlah mungkin hanya prasangka
Atau hanya sebuah kesimpulan

Maaf, jika aku sempat melirik
Maaf, jika tak hanya sedetik

Secara samar aku menatap
Di balik temaram cahaya bulan
Kau menunduk malu
Sepertinya sedang menunggu sesuatu
Kembang di sampingmu pun mengikut pilu

Ohh, Gadis ayu...
Engkaukah itu ??
Yang namamu bersanding dengan namaku
Dalam kitab lauh mahfudz

Masih ku tertegun melintasi bayang itu
Semua hanya selintas
Semua hanya melintas

Dalam mimpi malam tadi
Hingga senyum ku merekah bagai tak bertuan
Mengawali nafasku pagi tadi

10 Maret 2012

Membeli Mimpi

Mimpi-mimpi masa kini
Ku beli mimpi dengan berat hati
Wajah-wajah baru ku dapati
Ku angkat pijakanku kini

Lelap terbuai masa lalu
Enggan bahkan sejenak berjalan
Meski hati menggapai asa
Tapi tubuh hanya membisu

Aku harus memeluk mimpi
Ku sanding dalam hati
Ku reguk tiap perih
Biar senang hati ini

Bukan dengan sebuah penilaian
Hanya sebuah pergerakan
Untuk aku dan Tuhanku

8 Maret 2012


Pria Di Atas Bara

Sirat senyum di atas duka
Yang kemudian menjelma cita
Lekaslah berjalan
Hadapkan kedepan

Di matamu, sinar keindahan telah nampak
Rindu yang menggebu
Jua batin yang menggelora

Kau pasti pernah berdarah karena luka
Jalani saja
Meski cecerannya mengenai jubahmu

Tekadmu adalah obatmu
Serta doa yang menyambangi gerakmu

Larungkan seluruh abu-abu menjadi satu
Menuju laut luas tak bertepi
Singgahi tanpa pernah mencicipi
Torehkan pada awan hitam yang menggantung

Wajah yang kau tutupi debu itu
Sejenak kan menjadi penyangga noda
Biarkan
Karena kau pria di atas bara

8 Maret 2012

Pujangga Kata

Akulah pujangga malam
Mengurai cinta dalam diam
Heningku adalah inspirasiku
Detikku berbicara mengenai segala

Tiada artinya nafas
Tanpa cerita di balik kertas
Berliku jalan di hadapan
Sejatinya adalah harapan

Kata-kata pengobar semangat
Torehkan lekat pada detak
Sejak kini hingga mati

Pujangga kata
Pembuat makna

Kemana jiwaku ??

Sang nafsu mengebiri jiwa beku
Terlempar jauh ke jurang fana
Legam tanpa cahaya
Berputar-putar di labirin tak berpintu

Tanpa hawa di sana
Terengah-engah udara terhirup
Tiada jejak pada tapak
Tiada cerita dalam buku
Tiada kata dalam bahasa

Indahnya mungkin sejenak
Tapi sungguh kita butuh Dia
Meski merangkak
Meski terisak

Ya, hanya Dia
Dermaga kata yang terserak
Bejana airmata tak terhingga

Pontang panting mencari
Berjalan, berlari bahkan mendaki
Ternyata Dia ada di sini
Ya, di dalam hati

Kadang menyapa, kadang terlupa 
Sejenak menghampiri, kemudian membelakangi

Lelah, kembali lelah
Batas ini sungguh menyesakkan
MemanggilNya pun sering tersendat
Kemana suara yang selama ini berteriak lantang
Ini duniaku, ini duniaku
Dan tentang akhirat, aku membisu

Kemana jiwaku melanglang
Kapan doa tidak ada penghalang

Maafku masih terus menggantung
Di ujung pinta di atas langit

7 Maret 2012

Allah Lebih Besar

Galau. Galau. Galau. Itulah yang saya rasakan beberapa hari ini. Bukan karena cinta pastinya. Mungkin masalah yang standar yang biasa di alami oleh beberapa orang. Saya galau akan pekerjaan. Ketika mendapat pekerjaan baru yang saya fikir lebih menantang, justru saya di hadapkan pada ketidakenakan untuk meninggalkan pekerjaan lama. Padahal pekerjaan baru ini, sudah saya inginkan sekian lama. Merasa tidak enak karena bagaimana dengan semua pekerjaan yang “mungkin” akan terbengkalai. Terlebih saya sudah lama bekerja di tempat lama dan saya yang menghandle beberapa pekerjaan penting. Jika saya berfokus pada pekerjaan lama, saya tidak akan menemukan sesuatu yang baru yang bisa jadi ada banyak ladang pembelajaran untuk saya. Jika di fikir-fikir, keduanya ada kelebihan dan kekurangan. Tapi toh, kita harus tetap memilih. Jika saya berfikir kenyamanan, maka di tempat lama jauh lebih nyaman karena tidak perlu repot-repot beradaptasi ulang, tidak usah belajar lagi dan sebagainya.

Seperti kata teman, kalau kita terus memikirkan pekerjaan lama sedang pekerjaan baru menanti maka tidak akan ada habisnya. Maju saja. Bukan bermaksud mengabaikan, toh nanti akan ada orang-orang baru yang mampu menggantikan.

Sama seperti jika kita terpaku pada kenyamanan saat ini sedangkan di hadapan ada sesuatu yang lebih menantang lalu kita tidak mengambilnya maka tidak akan ada perubahan. Apapun nanti yang terjadi di depan semoga bisa menjadi warna dalam khazanah kehidupan saya.

Yang paling teringat pada masa galau saya kali ini adalah ketika saya merasakan kasih sayang Allah yag teramat sangat. Saat kepala saya seperti mau pecah memikirkan bagaimana pengganti saya nanti di tempat lama dan bagaimana nanti lingkungan di tempat baru apakah lebih baik atau seperti apa, Allah memberikan secercah asa kepada saya. Hari berganti, saya memasrahkan diri. Dan hari berganti, pertolongan Allah terus datang. Selalu saja ada kemudahan. Saya berfikir hingga kepala berat, padahal ada Allah yang mampu memudahkan.

Sering kali saya khilaf ketika di hadapkan pada suatu persoalan. Bukan Allah pertama yang saya sapa. Bukan juga orang tua tempat saya bercerita. Saya malah memutar persoalan sendiri di dalam fikiran yang akhirnya hanya membuat saya pusing dan bingung sendiri. Padahal ridho Allah bergantung pada ridho orangtua. Saya jadi bisa membuat kesimpulan bahwa boleh saja kita menganggap masalah kita teramat besar tapi Allah jauh lebih besar dari itu semua. Allah tidak akan melepaskan hambaNya begitu saja ketika masalah melanda.

Maka nikmat Allah manakah yang kita dustakan ??

Allahua’lam

6 Maret 2012

Karena Kita Satu

Kawan, kita ini bertumpah darah satu, Indonesia
Bangsa kita satu, bangsa Indonesia
Dan bahasa kita hanya satu, bahasa Indonesia

Bukankah itu lambang persatuan para pemuda Indonesia
Dari sabang sampai Merauke

Ikrar yang telah tergerus zaman
Namun makna jangan pula terbengkalai
Ingatlah kita adalah satu, Indonesia

Kawan,  jika kau hendak mencaci negerimu ini
Coba kau sentuh tanah ini, tempat kau berpijak
Bahwasanya ia senantiasa menjadi saksimu
Dalam sukamu dalam dukamu

Tanah yang kau pijak ini
Bukanlah tanah ber-harga yang harus kau bayar kala kau menginjaknya
Bukan pula tanah berlabel asing saat kau menginjaknya

Kawan,  jika kau hendak membenci negerimu ini
Coba kau hirup perlahan udara negeri ini
Dalam hawa tubuhmu mengalir pula udara Indonesia
Udara yang kau campakkan tapi akan kau rindukan
Kelak jika kau hirup udara yang lain

Sekali waktu, pandangilah langit biru negerimu
Dari sanalah kau gantungkan impianmu
Kau hamparkan sederet cita dan cinta
Tentang hidup tentang semua

Kawan, kita ini hidup di negeri yang di kelilingi bahtera luas
Di naungi gunung berapi indah tak berujung
Pesona tanpa batas
Dari Barat hingga Timur
Keindahan menyambangi samudera jiwa para petualang

Jika saat ini kau belum beranjak pada bagian lain negerimu
Singgahlah di tepian batas laut yang bergemuruh
Menarilah di antara pasir pantai yang menggelinjang mesra
Pada kaki-kakimu
Sapalah dunia lain di bawah lautmu, kekayaan habitatnya
Beragam nafas yang berhembus dari kehidupan laut
Hanya di sini, di negerimu ini
Terindah, sangat indah

Lalu coba kau sejenak melelahkan dirimu
Hanya sekali saja
Kau daki gunung yang menyambut ramah hadirmu
Gunung-gunung berapi yang selalu di rindu
Bila kau lelah, tanahnya akan menyanggahmu
Bila kau haus, mata airnya kan menghalau dahagamu
Bila kau jenuh, hijaunya akan meng-indah-kanmu
Perlahan saja kau berjalan
Dan kan kau temui hawa lain dalam pandanganmu
Sejenak kau menjadi manusia di atas awan
Berdiri pada titik terindah dari ibu pertiwi
Hanya di sini, di negerimu ini
Terindah, sangat indah

Di sana, di sudut bumi tak terjamah kota
Ada sosok-sosok penuh makna
Mereka adalah hakikat kehidupan sebenarnya
Menghargai, mencintai tanah pertiwi tanpa balas jasa
Menyatu abadi di kebersahajaan alam
Menangkap bias rindu di kelopak mata

Di sana, di sudut bumi tak terjamah kemajuan
Ada sebersit kilau mutiara terpendam
Adalah kita, sang penjaga keasrian
Jagalah mereka, cintai mereka
Yang tak bernyawa, namun memberikan hawa

Saat kau telah menorehkan kisah membuku tentang negerimu
Tautkan erat pada hatimu
Keramahan laut yang memberimu ketenangan
Keheningan alam yang meng-arif-kan dirimu
Kebahagiaan dari persentuhan hatimu dengan masyarakat negerimu

Buanglah kerak kebencian di hatimu
Bahwa kini, bukan saatnya mencaci
Bukan pula waktunya berdiam diri

Kau adalah pemuda tangguh yang mampu mengarungi keterbatasan
Arungilah kehidupan dalam balutan semangat
Mulailah sebarkan tekad dari tempatmu berpijak
Berikan warna terindahmu
Bukan hanya hitam dan putihmu
Untuk negeri kita, Indonesia

Karena kita adalah satu, Indonesia


24 Januari 2012

My Name Is Qila

Namaku Qila. Aku adalah sulung dari dua bersaudara. Kedua orangtuaku berasal dari Surakarta. Kini aku tinggal bersama orangtua dan adikku satu-satunya di kawasan Jakarta yang lumayan bisa di bilang padat. Tapi aku senang, karena rumahku berdekatan dengan rumah saudara-saudaraku (sepupu, bule, bude dan lainnya). Jadi tetanggaku adalah saudaraku. Ketika terjadi suatu persoalan, maka aku bisa meminta bantuan saudara-saudaraku untuk memberikan masukan bagaimana penyelesaian atas masalah yang aku hadapi.

Usiaku dua puluh lima tahun. Usia yang sudah cukup pantas untuk menikah, tapi kenyataannya aku  masih juga sendiri. Teman-teman seusiaku sudah banyak yang telah menikah bahkan sudah mempunyai anak. Hal itu sering membuatku resah, di tambah orangtuaku yang sering menanyakan kapan aku menikah. Tapi aku cukup lega karena ada saudara perempuan sepupuku yang lebih tua tiga tahun tapi belum juga menikah. Tidak terlalu menyesakkan dada. Yah, meskipun dia sudah memiliki pacar sedangkan aku tidak. Bukan aku tidak laku atau terlalu pilih-pilih, tapi karena aku memang tidak ingin berpacaran lagi. 

Mungkin keputusanku untuk tidak berpacaran lagi adalah hal yang mengejutkan bagi teman-temanku. Bagaimana tidak, mereka yang tahu aku adalah penganut sistem pacaranisme setengah terkejut dan tidak percaya. Apalagi sewaktu aku bilang jika aku akan menikah tanpa berpacaran.

Sebenarnya untuk aku sendiri, pacaran tanpa menikah masih menjadi hal yang aneh. Menikah tanpa pacaran ?  Seperti beli kucing dalam karung, itu yang ada dalam fikirku. Tapi hal tersebut mampu di sanggah oleh temanku, sebut saja namanya Almas. Dia seperti mencuci otakku untuk tidak lagi pacaran. Sedikit aneh, karena dia juga belum menikah, tapi dia yakin dengan teori menikah tanpa pacaran walaupun pada prakteknya dia belum melakukannya. Dia pernah bilang, bahwa jodoh adalah rahasia Allah dan janji Allah bahwa yang baik akan mendapatkan yang baik pula. Yang penting sabar dan yakin. Doktrin itu sedikit banyak mampu mengubah persepsiku mengenai pacaran. Memang sebelumnya aku sudah merasakan betapa jenuhnya berpacaran. Banyak kesia-siaan yang aku rasakan, padahal aku tahu pacarku belum tentu menjadi jodohku kelak. Dan setelah aku berpacaran dengan dengan pacar terakhirku, sejak itu aku tidak lagi berpacaran. Meski kadang ada keraguan terbersit dalam hatiku mengenai jodoh, maka berkali-kali pula aku berusaha untuk menepis keraguanku itu. Setiap orang di ciptakan berpasang-pasangan, aku yakin itu.

Entah karena aku sudah terpengaruh dengan janji Allah bahwa seseorang yang baik pasti akan mendapatkan pasangan yang baik pula, maka kini aku sudah merubah penampilanku. Alhamdulillah aku sudah mulai berjilbab. Setelah mengalami fase kegamangan yang cukup panjang. Berdiskusi kesana kesini. Akhirnya aku memutuskan untuk berjilbab. It's amazing. Skenario Allah untuk merubahku menjadi lebih baik, semoga hati dan sikapku juga mengikuti penampilan menjadi lebih baik. Aamiin.

Ternyata pertama kali berjilbab tidak membuatku risih, justru aku merasa biasa saja. Padahal kekhawatiranku sebelum memutuskan untuk berjilbab sangat banyak. Aku takut di anggap sok alim, aku takut jika sikapku nanti tidak mampu mengimbangi jilbabku dan banyak lagi kekhawatiranku lainnya. Maklum saja, aku berada dalam satu lingkungan pergaulan yang kadang belum bisa menerima suatu perubahan positif terjadi.  Alhamdulillah, Almas kerap kali menyemangatiku untuk berjilbab. Dan aku semakin yakin untuk berjilbab.

Jika aku dulu seperti terkungkung pada dunia kerjaku yang itu-itu saja. Tiap hari bekerja dan bertemu dengan orang-orang yang sama. Monoton  dengan teman-teman yang kurang menyenangkan atau dalam artian hanya bisa bersenang-senang tanpa bisa berfikir masa depan. Aku sempat tenggelam dalam dunia itu. Acapkali hati dan sikapku berseberangan. Apa yang aku lakukan semua seperti keterpaksaan. Menerima ajakan teman untuk bersenang-senang karena tidak enak hati bila menolak.

Lagi dan lagi, aku ucapkan Alhamdulillah. Sekarang aku bisa membuka mata, hati dan telingaku lebar-lebar. Aku sadar, bahwa dunia begitu luas. Banyak kisah di dalamnya yang bisa aku renungkan. Cukup hanya dengan menyediakan lebih banyak waktu untuk melihat, merasa dan mendengar kemudian di resapi maka semua hal bisa menjadi suatu pelajaran. Aku tidak hanya menyalahkan keadaan tapi aku mencoba mengambil hikmah dari suatu kejadian, termasuk teman-temanku. Ketika dulu banyak kata-kata motivasi hanya berseliweran tanpa aku hiraukan, maka kini kata-kata itu mampu membangkitkan semangatku untuk bisa berfikir dinamis.

Oleh teman-teman, aku di kenal "si tukang nyengir". Karena hampir dalam kondisi apapun selalu aku hadapi dengan "nyengir". Bahkan ketika aku mendapat omelan dari atasan di tempatku bekerja, maka "nyengir" adalah jurus andalanku. Meskipun banyak orang yang melihatku aneh. Di omelin kok malah senyum-senyum saja. Aneh mungkin, tapi paling tidak dengan begitu aku bisa membuat suasana tidak menyeramkan. Dan hal itu sedikit banyak  membuatku tidak terbebani oleh masalah yang hadir.

Aku juga terkenal oleh teman-temanku sebagai seseorang yang plin-plan. Hhmmm. Iya juga kalau aku pikir. Aku kadang lebih banyak berfikir daripada membuat tindakan. Hal itu kerap membuat orang di sekitarku kesal. Sering aku geram dengan diriku sendiri, tapi apa mau di kata, aku hanya bisa berusaha merubahnya secara perlahan.

Sebagai seorang wanita, aku mempunyai sifat wanita sekali yaitu "cerewet". Kalau aku sedang berbicara seperti kereta api Taksaka yang melaju terus tanpa berhenti (kecuali di stasiun tertentu). Aku bisa jadi pembicara yang hebat kalau sedang mengobrol dengan teman-temanku. Walhasil teman-temanku hanya menjadi pendengar yang baik saja. Aku juga sangat terbuka akan semua hal pada teman-temanku. Walaupun sering di ingatkan untuk tidak terlalu terbuka, tapi aku masih saja seperti itu. Usaha, usaha dan usaha jadi lebih baik. Yess.. InsyaAllah.

Di balik kecerewetanku, ada teman yang  bilang "kenapa tidak jadi penyiar radio saja ? udah pas sama cerewetnya." Aku hanya tersenyum. Benar atau tidak, mungkin karena faktor tahi lalat yang ada di bibirku. Kata orang, itu menandakan bahwa aku bakat cerewet. Semoga saja apa yang aku katakan selama ini tidak sampai menyinggung perasaan orang lain.

Untuk yang satu ini bukan kataku loh ya, tapi kata temanku. Suatu saat ketika aku iseng-iseng menggambar objek yang aku contoh dari sebuah koran, ada teman yang bilang bahwa aku berbakat menggambar. Senangnya aku mendapat apresiasi atas karyaku, meskipun bisa di bilang hanya sebuah coretan menurutku. Tak apalah, biar ini menjadi hobiku saja, yang aku lakukan saat aku penat.

Aku juga suka menulis. Tapi jangan sebut aku penulis. Karena aku baru sekedar menulis di catatan facebook. Semua hal yang aku anggap memiliki hikmah, aku coba menuangkannya ke dalam sebuah cerita. Belum banyak, tapi bisa membuatku takjub sendiri kala membacanya ulang. Seperti tidak percaya, bahwa aku bisa membuat tulisan seperti itu. Bagiku menulis merupakan sarana pelampiasan emosi atas apa yang kita rasakan. Misalnya ketika sedang kesal atau marah. Tuangkan saja kedalam tulisan, kemudian di olah hal positifnya. Hingga nantinya, selain kita terhindar dari keluhan berlebihan, kita juga bisa menularkan manfaat justru dari sebuah kemarahan. It's amazing right ??

InsyaAllah, semoga untuk kedepannya aku bisa bermanfaat minimal bagi orang-orang terdekatku dan terlebih untuk semua orang.

Barakallahufiikum.

-Sepenggal Cerita Kawan-

Hujan

Hujan. Pada siang menuju sore hari ini, hujan terus mengguyur tanah pertiwi. Lebih tepatnya kota saya, Jakarta. Karena saya tidak tahu apakah di belahan kota sana, hujan juga turun atau tidak.

Amazing. Itulah hal yang saya selalu rasakan tatkala hujan datang. Ya, semoga saja seperti itu dan memang seharusnya seperti itu. Di luar kejadian yang sering terjadi ketika hujan turun, misalnya angin besar yang menyebabkan pohon-pohon dan baliho tumbang, banjir, kadang longsor, macet dan sebagainya, saya selalu merasa amazing melihat hujan. Menatap tetesan hujan yang turun entah dari ketinggian berapa –karena saya tidak pernah tahu berapa ketinggian langit yang luas itu-. Atau merasakan bau hujan dan menghirupnya dalam-dalam. Mungkin aneh, tapi saya seperti merasakan suatu hawa baru yang sejuk dan jernih.

Pernah suatu kali saya tidur telentang di sebuah lapangan pada suatu malam dan mata saya menatap pada langit luas tanpa sekat. Yang saya lihat adalah betapa langit itu benar-benar tanpa batas. Mungkin dari situlah ada pepatah yang mengatakan “gantungkan cita-cita setinggi langit”. Karena memang langit itu tidak berujung dan bercita-citalah terus tanpa henti. Dan gapailah cita-cita dengan usaha yang maksimal.

Sama seperti yang saya lihat pada malam itu, langit yang luas seperti memberikan suatu atmosfer yang berbeda. Benar-benar memanjakan mata dengan pada dimensi tanpa batas. Yang seketika mengajak kita untuk bermimpi. Karena langit itu luas dan mimpi sebanyak apapun akan tertampung. Seperti kuasa Allah yang luasnya melebihi langit dan Allah akan menampung mimpi-mimpi jika kita berusaha mengejarnya.

Kembali pada hujan. Butirannya yang terus membasahi bumi bagaikan saksi yang tak pernah putus saat penghuni bumi memanjatkan doa-doanya. Ya, karena setahu saya hujan adalah rahmat dan berdoa saat hujan adalah mustajab. Indah betul bukan segala ciptaan Allah ??

Saya jadi lebih merasakan amazing saat hujan ketika saya berada di atas gunung. Tempat yang sebelumnya belum pernah saya datangi tapi saya selalu merasa penasaran untuk hadir di sana. Dan kali pertama saya berkesempatan ke gunung, saya pun di sambut hujan deras. Hujan yang turun pada pendakian pertama saya dan di malam hari pula. Tak ayal, setelah sampai di atas gunung saya pun menangis karena kedinginan setelah beberapa jam tertimpa hujan. Dan parahnya lagi, saya tidak bisa ganti baju kering karena tas saya di bawa oleh teman yang masih ketinggalan di bawah. Kenangan pahit yang terasa manis.

Semenjak itu saya semakin suka dengan hujan. Terlebih hujan-hujan setelahnya yang menemani saya ketika di gunung. Hujan rintik-rintik yang menemani saya bersujud di pendakian saya yang kedua. Sungguh nikmat tiada terkira. Dan tidur berkawan suara hujan yang seakan berlomba-lomba menyentuh saya, tapi toh tidak bisa karena saya berada di dalam tenda. Dan banyak lagi cerita hujan saya yang selalu amazing menurut saya.

Mungkin kesenangan saya akan hujan sama seperti anak kecil yang merengek pada ibunya karena ingin main hujan. Dan ada rona bahagia yang terpancar dari wajah anak-anak kecil ketika berhasil bermain hujan meskipun dengan izin yang di paksakan dari sang ibunda.

Atau kesenangan orang-orang akan hujan yang bisa membuatnya tidur lebih lelap dari biasanya dan efeknya pasti akan menimbulkan rasa malas yang luar biasa untuk bangkit memulai aktifitas di hari yang baru. Saya pun tidak jarang merasakan hal yang sama.

Juga di sebuah film. Hujan menggambarkan suasana yang penuh romatisme. Dalam film India pun, tarian dan nyanyian orang yang sedang bersukaria sering di gambarkan pada saat hujan. Di film lain, hujan di jadikan saat untuk pasangan melakukan adegan romantis yang membuat para penonton seperti terbius ke dalam suasana tersebut.

Kesenangan para petani yang ladang atau sawahnya menjadi subur karena air hujan atau yang mengandalkan pengairan hanya dengan air hujan. Kesenangan tukang bakso yang akan laris manis karena dagangannya bisa menambah nafsu makan siapapun yang membelinya saat hujan. Yang pasti bagi suatu daerah yang telah lama di landa kekeringan maka hujan bagaikan anugerah tak ternilai. Subhanallah. Mungkin masih sangat banyak ke-amazing-an hujan yang luput dari pantauan indera saya.

Hujan adalah rahmat yang mengairi bumi Allah tanpa pilih kasih. Jika hujan saja sudah sebuah rahmat maka setelahnya pun ada bonus Allah, yaitu pelangi. Semua orang tahu jika pelangi itu indah dengan tujuh warna yang melingkupinya. Pelangi merupakan sisa pembiasan dari air hujan dan pelangi itu hanya ada setelah hujan turun. Meskipun pelangi itu tidak selalu hadir di depan mata saya. Tapi pelangi itu selalu ada. Entah di ujung kota saya, di atas gunung tempat saya menuai hikmah, atau di tempat yang saya tidak tahu di mana keberadaannya. Tapi pelangi itu bukanlah suatu fiksi terlebih imajinasi. Karena semua orang pasti pernah melihatnya walaupun tidak selalu melihatnya ketika hujan reda.

Hujan  memang selalu amazing. Dan Allah tidak pernah sia-sia menciptakan sesuatu. Jika di ibaratkan hujan adalah suatu permasalahan, maka pelangi adalah penyelesaiannya. Jika hujan di ibaratkan dengan mimpi-mimpi, maka pelangi adalah bukti nyata mimpi-mimpi itu.

Allahua’lam

Ketika Uang Hanya Mampir

“Bang, pinjam uang donk.” Rengek Fath pada abangnya, Fathir.

Abangnya yang memang saat itu sedang menghitung uang gajinya, seketika terkejut.

“Hah ? Pinjam uang ? Yang benar saja Fath. Kamu kan baru kemarin juga terima gaji. Masa hari ini mau pinjam uang.” Jawab Fathir dengan beragam tanya terlontar.

“Hehehe. Maaf bang, kemarin Fath khilaf. Pulang kerja langsung pergi ke Mall sama teman-teman. Makan-makan, nonton terus belanja. Tidak sadar ternyata uang gaji Fath tinggal separuh. Dan Fath belum membayar cicilan motor bulan ini.” Fath memberikan penjelasan dengan rasa bersalah.

“Hhmm… “ Fathir geleng-geleng kepala mendengar penuturan adiknya.

Selama ini, memang adik kembarannya adalah sosok yang gampang berbaur di tempat kerjanya. Tapi jeleknya, Fath tidak pernah bisa menolak ajakan kawan-kawannya untuk pergi kesana sini yang ia tahu membutuhkan uang banyak. Sedangkan kini, Fath baru dua bulan bekerja. “Tidak enak bang, menolak ajakan kawan” Begitu alasan Fath, tiap kali Fathir memberikan nasehat untuk mengurangi tindakan borosnya.

*****

Di tempat lain.

“Pak, yuk kita makan steak yang terkenal enak itu.” Ajak Pak Angga pada rekan kerjanya Pak Sapto.

“Sebentar ya saya mau ke dalam dulu.” Sahut Pak Sapto bergegas ke ruang kerja untuk mengambil sesuatu.

“Yuk, Pak Angga.” Sejurus kemudian Pak Sapto muncul di ikuti oleh Pak Angga yang sudah siap dengan kunci motor di tangannya.

Nahla yang melihat kejadian itu hanya bisa mengelus dada. Hari itu adalah hari gajian karyawan di perusahaan tempat Nahla bekerja. Belum satu jam Nahla membagikan uang gaji dan seperti biasa, hari gajian di ibaratkan seperti hari mendadak kaya sedunia. Ingin ini, ingin itu seolah semua ingin di beli. Yang Nahla tidak habis mengerti, uang yang tidak seberapa itu sangat tidak betah berada di tangan pemiliknya. Ada saja keinginan yang membuat uang itu lenyap seketika.

Menginjak minggu kedua atau ketiga, keluhan datang bergiliran memenuhi ruang kantor. Keluhan mengenai uang yang habis, padahal tanggal gajian masih jauh. Dan kemudian Nahla juga yang sering “di todong” untuk meminjamkan uang kas perusahaan.

*****
Mungkin cerita di atas bisa jadi refleksi saya pribadi atau kawan-kawan lainnya. Yang bekerja dan mengandalkan uang gajian guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada yang salah jika kita menggunakannya secara bijak, memposkan uang sesuai kebutuhan. Bukan seperti orang yang berpuasa lalu kalap melihat makanan banyak di depan mata tatkala azan maghrib berkumandang.

Masa kita sebagai pegawai masih ada sebulan kedepan untuk mendapatkan kembali hak kita berupa gaji. Bukan waktu sebentar ketika uang yang ada di kantong semakin menipis sedang kebutuhan untuk biaya sehari-hari tidak bisa di tunda. Akibatnya hutang menjadi pilihan.

Baiknya kita terlebih saya, tetap menjadi pribadi yang sedang-sedang saja. Bukan yang mendadak menjadi “kaya raya” pada saat gajian, kemudian beberapa hari saja mendadak menjadi “miskin” karena tidak ada uang. Sedang-sedang saja. Mengendalikan nafsu pada saat ada atau tidak adanya uang. Menggunakan uang secara bijak sesuai kebutuhan bukan keinginan. Karena bukan terlihat dari jumlah besar uang yang membuat seseorang pantas di berikan predikat “kaya” tetapi dari seseorang mampu bersikap sederhana, merasa cukup dan bersyukur. Hidup sederhana tanpa hutang jauh lebih menenangkan di banding memiliki segalanya tetapi hutang di mana-mana. Karena lebih baik menabung untuk kebutuhan yang terduga atau untuk kehidupan di masa depan (akhirat) di banding menabung di pusat perbelanjaan, rumah makan dan lainnya. Sesekali mungkin tidak apa tapi bukan menjadi suatu rutinitas yang dapat menghabiskan uang secara sia-sia.

Allahua’lam.

Jika "Lava Pijar" Itu Akan Tumpah

Kawan, mungkin saat ini banyak dari kita yang berada di posisi tidak menyenangkan. Ingin sekali rasanya berteriak, marah, mengeluarkan semua yang di rasakan. Ibarat gunung yang sedang aktif, ia akan mengeluarkan lava pijar, setelah dalam kurun waktu yang lama menahannya di dalam perut bumi. Duuaarr,, Jika kita ibarat gunung, maka lava pijar itu akan menghantam orang-orang terdekat kita. Jika lava pijar bisa membunuh, maka "lava pijar" kita minimal bisa membuat sakit hati orang-orang yang terkena dampaknya.

Okelah bila kita hanya menimpakan lava pijar itu hanya kepada sesama manusia, tapi apa jadinya jika kita meluapkan lava pijar kita pada Sang Khaliq ?
Allah Maha Pengampun itu pasti, namun alangkah kita tidak bersyukur jika harus mengadu kepada Allah dalam keadaan dan dengan bahasa yang tidak baik.

Mengurai makna ulat dalam kepompong yang sabar hingga menjadi kupu-kupu yang indah, bisa kita ikuti teladannya. Kesabaran yang tidak berbatas, doa yang terus mengalir, hati yang selalu tertaut pada Allah dan bibir yang kerap mengucap zikir. Tidak mudah, sangat tidak mudah.

Kelemahan manusia adalah kesabaran yang kadang berbatas dan berakhir pada emosional tak terkendali. Kemarahan adalah ujung tombak dari kekesalan yang menumpuk di dalam hati. Ya, seperti lava pijar yang di bahas di atas.

Bismillah...
Kita tidak sendiri, masih banyak orang-orang yang di luar sana yang mengalami nasib tidak sebaik kita. Jika itu sulit menjadikan kita untuk bersyukur, minimal kita bisa berusaha untuk belajar bersyukur dan menahan segala macam efek negatif yang di timbulkan ketika kita memaksakan mengeluarkan lava pijar kita.

InsyaAllah...
Ini hanya suatu masa yang terus berputar. Yakinlah, ini hanya sementara. Yakinlah, Allah akan memberi yang lebih baik sebagai pengganti. Allah hanya ingin melihat, sejauh mana kita mampu bersabar dan dapat menahan diri untuk tidak berlebihan dalam berperilaku yang menimbulkan efek negatif bagi orang lain. Di balik kesulitan ada kemudahan. InsyaAllah...

Alhamdulillah...
Allah Maha Mengetahui. Bila kita sabar, maka cahaya kemenangan atas doa-doa kita akan terjadi. Allah sayang kita. Kita harus ingat itu. Meski kadangkala tanpa sadar kita telah beranjak yang sebelumnya berada dalam posisi sulit kemudian kini telah berada pada posisi yang sangat melegakan. Ya.. itu berarti Allah telah mengabulkan doa kita. Allah memberikan kita kompensasi atas segala kesabaran kita selama ini. Tidak ada yang sia-sia jika kita berniat melakukan sesuatu karena Allah.

Kemudian, cobalah sejenak kita bersama-sama merenung tentang situasi sebelum kita ada pada posisi ini. Sesungguhnya banyak pembelajaran yang begitu indah yang bisa di ambil. Meskipun sesuatu yang indah itu berasal dari kejadian atau pengalaman pahit. Semoga semua yang kita alami bisa menambah kedewasaan kita akan hidup dan yang terpenting lebih mendekatkan kita kepada Allah. Karena kenikmatan terbesar adalah dekat dengan Allah bukan yang lain.

Allahua'lam.