Artikel

Desaku Yang Kucinta...

19 Agustus 2012, bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 1433 Hijriyah, saya dan Ibu saya pergi menuju kampung halaman pada sore harinya. Sudah dua tahun saya tidak mengunjungi tanah kelahiran Ibu saya, yang ternyata ketika datang tidak jauh berbeda dengan dahulu. Tetap sunyi, entah karena memang seperti itu atau mayoritas penduduk banyak yang merantau meninggalkan kampung halaman. Setidaknya semenjak kecil saya pulang kampung, tidak pernah saya temui keramaian bahkan saat perayaan Idul Fitri. 

Kampung halaman saya berada di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Semarang, Kotamadya Salatiga, Kecamatan Bringin, Desa Pakis. Saya selalu bilang pada kawan saya, bahwa kampung saya berada dipedalaman. Kenapa ? Karena disana suasana masih serba alami, pohon-pohon masih tinggi menjulang, sawah-sawah menghampar, bukit-bukit hijau seolah menjadi batas sudut desa. Dan tidak semua provider memiliki sinyal yang baik disana, juga provider yang tergolong tidak baru. 

Desa Pakis masih didominasi oleh rumah-rumah yang berdinding kayu dan beralaskan tanah, meski kini sudah terlihat rumah-rumah tembok dan lantai keramik. 

 *****



Rumah Mbah saya
Beberapa tahun lalu, ketika saya masih sekolah dan pulang kampung, rumah nenek saya masih sangat sederhana. Sama sekali tidak ada listrik, hanya menggunakan cahaya dari sumbu kompor  yang dimasukkan kedalam kaleng dan menggunakan bahan bakar minyak tanah atau lampu templok (juga berbahan bakar minyak tanah). Hasilnya, ketika malam datang dan hendak pergi keluar maka menggunakan penerangan tersebut atau blarak (daun kelapa kering yang dibakar). 

Karena tidak ada listrik, maka TVpun tidak ada. Hiburan saya saat pulang kampung adalah bercengkerama dengan saudara dan bermain disekitar rumah. Memberi makan ternak, pergi kesawah, main di kali dan sebagainya.

Dulu, di desa saya belum banyak yang memiliki kamar mandi (MCK) atau sumur ditiap rumahnya. Untuk MCK mengandalkan kali atau sungai yang memiliki mata air yang banyak. Pada musim penghujan, air begitu melimpah sehingga tidak sulit untuk mendulang air, sedangkan jika musim kering datang maka debit air disungai menjadi jauh berkurang dan sumur resapan menjadi terasa sangat dalam.

Jalan-jalan disepanjang menuju kerumah nenek saya, banyak lubang dan berbatu. Dengan bentuk jalanan yang naik dan turun, saya menganggap itulah kekhasan dari desa saya. Tepat didepan rumah nenek saya, jalan naik dan turun itu berada. Sangat terjal, tapi tidak menghalangi kendaraan bermotor untuk lalu lalang. Jika hujan turun, maka jalanan akan otomatis licin. Untuk ke kali yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah pun saya seringkali merasa takut.  Alhamdulillah, sekarang jalan-jalan sudah banyak yang diperbaiki.

Masih segar dalam ingatan, ketika saya bermain diantara pohon bambu yang banyak terdapat disebelah rumah. Begitu sederhana, tetapi nikmat terasa. Dengan adik dan kakak saya. Membuat rumah-rumahan dengan kerangka kayu dan dilapisi daun pisang sebagai dinding dan atapnya. Atau ketika suatu kali ikut dengan Paman mencari rumput disawah. Ketika mandi dikali dan mendadak gerombolan kerbau lewat disebelah saya. 

Kemudian, saya merasa sangat ingin BAB pada malam hari sedangkan dulu di desa saya belum ada kamar mandi dan mengandalkan kali, akhirnya ditemani ibu, saya melakukan hajat saya dengan diterangi blarak dialiran air dekat rumah. Memang sebelum adanya WC (kini sudah dibangun WC bersama dimasjid), permasalahan BAB menjadi masalah bersama. Masyarakat biasanya BAB di kali atau dialiran air atau terkadang ditanah yang kemudian ditimbun tanah. 

Sekarang listrik sudah ada di desa saya, meskipun tidak semua jalan terdapat lampu jalan yang mengakibatkan ketika malam datang tidak banyak orang yang keluar. Masyarakat juga sudah banyak yang membuat sumur resapan dirumahnya masing-masing sehingga tidak perlu jauh-jauh jika akan mandi.

Hingga kini, yang masih bertahan dikampung saya adalah penggunaan kayu bakar untuk memasak. Mereka tidak berpengaruh oleh kelangkaan atau kenaikan harga gas elpiji. Penggunaan yang bijak juga tidak membuat ekosistem menjadi rusak. Mata pencaharian yang sebagian besar bertani, membuat mereka bisa mengandalkan kebutuhan pokok dari hasil tani mereka. Selain menyambi dengan menanam sayur mayur yang hasilnya juga dijual dipasar selain untuk konsumsi sendiri. 

Ada yang hal yang saya heran dari keluarga saya didesa, mereka jarang sekali menyantap makanan yang berjenis daging. Ketika saya menginap, makanan yang disajikan tidak terlepas dari sayur mayur dan hanya sesekali berlaukkan ikan atau ayam.  Tapi itulah kenikmatan yang tidak saya temui saat kembali ke kota.

Kejadian lucu yang masih teringat hingga sekarang, ketika Mbah lelaki saya (Mbah Muhbariyah) mengajak saya pergi kemasjid. Waktu itu usia saya kurang lebih lima tahun. Saya tidak dipakaikannya mukena selayaknya perempuan pada umumnya ketika akan sholat. Tapi Mbah saya memakaikan saya peci dan mendirikan saya disebelahnya yang notabene adalah shaf untuk kaum lelaki. 

Saya salut dengan Mbah saya itu, meskipun usia sudah tidak muda lagi (sekarang kurang lebih delapan puluh dua tahun) tapi semangat beribadahnya tidak kendur. Ketika saya tidak menemui banyak anak muda datang ke masjid, justru Mbah saya selalu sholat berjamaah di masjid. Dan memang, sejak beberapa tahun yang lalu, saya amati tidak banyak anak muda datang ke masjid. Masjid kebanyakan dihuni oleh Mbah-Mbah sepuh dan bapak-bapak. 

*****

Libur lebaran adalah waktu kumpul-kumpul keluarga. Itulah yang selalu terjadi saat pulang kampung dan bertepatan dengan lebaran. Semua keluarga kumpul menjadi satu. Satu rumah bisa menjadi penuh mendadak dengan banyak penghuni. Mbah saya, Paman saya dan anak-anaknya, Bibi saya dan anak-anaknya dan saya sendiri dan keluarga dari Jakarta. Jika dihitung bisa belasan orang. Ramai tapi menyenangkan. Karena jika hari biasa maka semuanya akan kembali dengan aktifitas masing-masing. Maka libur lebaran menjadi ajang saling melepas rindu dan silaturrahim. Libur lebaran adalah waktu kumpul-kumpul keluarga. Itulah yang selalu terjadi saat pulang kampung dan bertepatan dengan lebaran. Semua keluarga kumpul menjadi satu. Satu rumah bisa menjadi penuh mendadak dengan banyak penghuni. Mbah saya, Paman saya dan anak-anaknya, Bibi saya dan anak-anaknya dan saya sendiri dan keluarga dari Jakarta. Jika dihitung bisa belasan orang. Ramai tapi menyenangkan. Karena jika hari biasa maka semuanya akan kembali dengan aktifitas masing-masing. Maka libur lebaran menjadi ajang saling melepas rindu dan silaturrahim.

Karena saya pulang kampung bertepatan dengan Idul Fitri, maka suasana hangat silaturrahim sangat terasa. Mungkin ada yang sudah mengetahui tradisi yang dinamakan BADAN. Bukan tubuh, tapi semacam silaturrahim kerumah saudara ketika Idul Fitri. Meskipun jarak rumahnya tidak bisa dibilang dekat, tapi tradisi semacam itu tetap ada dan semoga akan selalu ada. Pada beberapa kali badan, saya ikut bersama rombongan sepupu, bibi dan paman saya. Mengunjungi saudara-saudara tua (Mbah) yang masih hidup atau keturunannya. Meskipun jika ditanya, "ini mbah siapa dan itu mbah siapa", saya pasti akan menggelengkan kepala tidak tahu karena lupa. Ya, karena teramat banyaknya. Tapi badan, bisa sangat menyenangkan karena menyicipi makanan yang tersaji. Dari rumah kerumah dan dalam sehari mengunjungi beberapa rumah. Nikmatnya....

Kebersamaan itu pula yang membuat saya kagum pada mereka. Jika ada yang lewat depan rumah, mereka akan saling menyapa dan menawarkan untuk mampir (meskipun tidak kenal). 

Kebersamaan yang kemudian masih melekat dalam ingatan adalah, saat Ibu saya bercerita. Beberapa tahun lalu, saat nenek saya wafat (Mbah Nafisah) pada malam hari sekitar pukul sepuluh malam. Para tetangga dengan sigap tanpa menunggu datangnya mentari pagi langsung membantu mengurus pemakaman nenek saya pada malam itu juga hingga selesai sekitar pukul tiga pagi. Sesuai sunnah Rasul, mengurus jenazah harus disegerakan. 

Di desa saya, pemakaman sangat berbeda dengan di kota. Jika di kota, pemakaman dibuat sekokoh atau seindah mungkin tapi tidak di desa saya. Nisan yang digunakan hanya dua batang kayu tanpa ukiran nama almarhum, tanggal lahir dan wafatnya. Beberapa kali saya ziarah ke makam nenek saya, saya selalu bingung. Tetapi Paman saya yang selalu membimbing saya. 

Makam Mbah saya, Mbah Nafisah
Makam nenek saya hanya ditandai dua buah patok kayu dan batu yang ditengahnya ditanam satu tanaman dan disekelilingnya dibuat pembatas dari batu seadanya. Satu pelajaran yang mengingatkan, bahwa kesederhanaan tetap mengikuti bahkan ketika maut menjelang.

*****

Sekarang musim panas, sawah-sawah terlihat retak karena belum teraliri air. Meskipun panas, pohon-pohon yang tinggi di dekat rumah mampu menghalau terik matahari hingga menjadikannya tetap sejuk. Bersantai di bale depan rumah sambil ngobrol dan makan makanan ringan dengan saudara, ditemani semilir angin, menjadi saat-saat yang nikmat.  



Dan akhirnya kerinduan saya untuk ke sungai Grenjeng yang berada didekat rumah tercapai. Karena beberapa kali pulang kampung, saya tidak mendapat izin untuk kesana dengan alasan sungai itu sekarang sudah sangat sepi, jarang ada orang lalu lalang sepert dulu. Dan libur lebaran tahun ini, saya bersama adik sepupu saya main di sungai Grenjeng. Hanya beberapa menit dari rumah, melewati pohon-pohon bambu, kami sampai di sungai. Berfoto-foto dan bermain air. Karena sekarang sedang musim kering, maka debit air di sungai tidak banyak. Sungai yang diapit oleh pohon-pohon yang tinggi menjulang dan bersebelahan dengan persawahan terasa sangat sunyi, hanya aliran air yang menjadi irama. Meski siang hari, tapi terlihat lebih gelap. Tidak lama saya berada disana dan kemudian kembali pulang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar