Artikel

Yang Terdekat Dengan KIta

Saya yang terkadang lalai, terhanyut akan warna warni dunia yang terasa akan selamanya ada padahal tidak lebih hanya sekejap mata. Rabb, lembutkan hati kami untuk terus mengingat mati. Mengingat kampung halaman kami yang abadi. Keindahan yang hakiki bukan hanya polesan alakadarnya.


http://catatanpenaniven.blogspot.com

Pagi ini tepat pukul delapan, saya mendapat telpon dari seorang kawan. Yang saya tahu sudah beberapa hari ini ayahnya sedang dirawat di Rumah Sakit dan sudah membaik setelah sebelumnya sempat tidak sadarkan diri karena terkena penyakit Stroke Ischemic

"Assalamu'alaikum". Sapa saya kepada kawan yang menelepon.
"Wa'alaikumsalam". Jawabnya.

Sejenak tak terdengar kata, hanya isak tangis yang sangat jelas. Firasat saya mulai tidak enak, tapi tidak ingin mendahului. 

"Kenapa Ji ?". Tanya saya dengan masih diwarnai isak tangis dari kawan.
"Bokap gw ting...." Katanya dengan suara terputus.
"Iya, bokap lo kenapa ?". Tanya saya kembali.
"Bokap gw udah ga ada.".

Deg.
Tiada respon dari saya, hanya lirih berucap Innalillahi Wainnailaihi Raaji'uun. Hati saya terlebih dahulu menangis yang kemudian airmata saya seketika keluar.

"Udah gitu ajah ya ting. Assalamu'alaikum".  
"Wa'alaikumsalam". 

Tidak menyangka sebelumnya. Tiga hari yang lalu saya mengunjungi bapak kawan saya di Rumah Sakit (meskipun tidak sempat bersua karena sudah lewat dari jam besuk), kawan saya menceritakan bahwa kondisi bapaknya lebih baik dan dua hari yang lalu hingga kemarin saya bertanya mengenai keadaan bapaknya, kawan saya selalu terlihat sumringah karena keadaannya semakin membaik. Namun ternyata Allah Yang Maha Berkuasa atas segalanya memiliki kehendak lain. 

Bermula dari seminggu yang lalu, ketika kawan saya merasakan keanehan pada bapaknya. Tiba-tiba bapaknya tanpa terkontrol buang air kecil dicelana dan ketika diantar kekamar mandi mendadak kakinya lemas. Saat ditanya, bapaknya mengatakan dia baik-baik saja. Kawan saya pun tidak menanggapi kejadian itu dengan serius, hanya berencana akan membawa bapaknya kedokter pada sore harinya. Namun sebelum dibawa kedokter, kondisi bapaknya memburuk. Tidak hanya kakinya yang melemas tapi seluruh badannya sehingga harus diangkat oleh beberapa orang. 

Sepulang dari dokter (dokter umum yang sepertinya tidak memahami penyakit yang lebih spesifik) keadaan tidak semakin membaik. Keluarga dihubungi guna meminta bantuan do'a bagi kesembuhan bapak . Para tetangga berdatangan memberikan support.

Selang satu hari, ketika keadaan bapak tidak semakin membaik, keluarga memutuskan membawanya ke Rumah Sakit. Sempat menunggu beberapa saat karena kamar yang dituju penuh dan harus mengantri, akhirnya bapak ditempatkan di ruang HCU (High Care Unit). Setelah ditempatkan di ruang HCU, bapak sempat tidak sadarkan diri. Keluarga terus memberikan dukungan dengan mengucapkan hal-hal yang baik  dekat telinga bapak. Hingga satu hari setelah dirawat, kondisi bapak membaik, sudah bisa membuka mata, memperhatikan sekitar dan latihan memakan agar-agar karena sebelumnya mulutnya ikut kaku. Ditambah banyaknya keluarga dan kerabat yang berdatangan mengunjunginya. 

Kemudian sehari sebelumnya bapak wafat, ada seorang penjenguk yang berkata kepada kawan saya. "Tabah dan banyak berdo'a saja ya". Kalimat itu dikeluarkan karena melihat perubahan yang cukup "aneh", dari yang kondisinya drop kemudian berubah membaik seketika setelah keluarga dan kerabatnya datang. Seolah ingin mengisyaratkan bahwa kematian akan datang menjemputnya dan perubahan kondisinya hanyalah sekedar cara untuk menyenangkan para kerabatnya. Kalimat itu menjadi beban fikiran kawan saya, hingga ia meminta dukungan kepastian kepada saya bahwa bapaknya bisa sembuh seperti sediakala dan perkataannya penjenguk itu tidak benar. Saya yang memang tidak tahu kapan kematian itu akan datang, berusaha menghibur dan menyemangati kawan saya yang sedang berduka. 

Sampai tadi pagi saya mendapat kabar wafatnya bapak, cukup mengejutkan saya. Kata abang saya, ketika saya menceritakan mengenai perkataan si penjenguk, menurutnya memang biasa seperti itu. Hal itu juga dialami ketika nenek saya yang sakit parah tiba-tiba kondisinya membaik namun tidak lama kemudian wafat. 

Berbagai macam cerita mengenai kematian, bahwa sesungguhnya kematian adalah mutlak rahasia Allah Ta'ala yang tiada seorangpun mengetahui kapan dan dimana dia meninggal.

Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan khusnul khatimah dengan menyebut nama-Mu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar