Artikel

Sukses Itu Bermanfaat ??

Membingungkan. Sangat membingungkan. Paling tidak untuk orang seperti saya. Memaknai sebuah kesuksesan. Dimana-mana selalu digambarkan, kesuksesan adalah sebuah pencapaian yang tidak lain ukurannya adalah materi. Ya, materi. Uang, harta benda, tempat tinggal, kenyamanan, berlibur keliling dunia dan lainnya. Entah itu hanya sebuah persepsi yang hadir dari otak saya saja yang lahir dari fenomena sekitar. Tapi tak bisa dipungkiri, kenyataan mayoritas dilapangan seolah membenarkan persepsi saya.

Berbicara kaya, siapa yang tidak ingin kaya. Bahkan manusia yang hartanya sudah bergelimang pun pasti akan berfikir untuk menolak jika ada yang menyodorkan lagi tumpukan harta kepadanya. 

Tidak salah juga jika ukuran kesuksesan adalah materi. Materi yang didapat dengan tidak mudah, mengorbankan seluruh kemampuan, potensi, berderai airmata, perjuangan tanpa henti. Tapi bagaimana jika ada seseorang yang sudah melewati kondisi tersulit dan maksimal untuk meraih materi namun kenyataannya kini, mereka tetap saja dilanda kekurangan harta. Musnah pula makna kesuksesan jika hakikatnya adalah harta. Karena jika sukses selalu saja harus dimaknai dengan yang berbau materi, maka semua orang akan mengejar kesuksesan itu dengan berbagai cara. Yang penting sukses. Dimana letak harapan untuk mencari keberkahan ?

Beberapa kawan, mengajak saya untuk "sukses". Sukses dengan makna seperti diatas. Materi. Bukan saya antipati terhadap materi. Saya hidup pun sedikit banyak memerlukan materi sebagai sarana. Kembali pada sukses, ajakan dari beberapa kawan. Bagaimanapun, saya tidak akan bisa melakukan sesuatu yang hati saya pun tidak menyenangi. Terdengar klise. Seperti itulah. Bagi saya kenyamanan hati, ketenangan adalah segalanya dalam melakukan sesuatu. Walhasil, beberapa kali saya menolak ajakan sukses itu dan tak tahu kenapa, beberapa kawan itu muncul hanya pada saat menawarkan jalan untuk sebuah "kesuksesan". Saat saya menolak, mereka teratur pergi dan menghilang.  Tidak ingin berburuk sangka. Tidak ada yang salah dengan jalan kesuksesan itu -bagi saya yang awam-. Jika tidak sesuai dengan hati nurani dan karena terpaksa, buat apa diteruskan.

Mungkin saya ingin mengganti kata sukses itu dengan kata manfaat. Ya, manfaat. Bagi sesama, seluruhnya. Meskipun lagi lagi saya masih jauh untuk menjangkaunya. Tapi dengan kata manfaat, sedikitnya kita masih akan bisa berguna dengan apa yang kita miliki. Sedikit saja. Lama-lama menjadi bukit. Sedikit saja. Kemudian menjadi sebuah kebiasaan. Sedikit dan lupakan. Indahnya membayangkan itu. 

Jika membaca berita atau menonton televisi mengenai sosok yang tidak istimewa dari segi fisik, harta atau lainnya, tapi dia memiliki suatu kemanfaatan yang luar biasa bagi orang sekitarnya. Dengan kemampuan yang mungkin tidak dipelajari lewat bangku sekolah atau perguruan tinggi. Tapi sebuah ilmu sederhana yang seketika ilmu itu "meng-kaya-kan" dirinya dengan jurus "berbagi". Amazing. Selalu amazing mata ini jika melihatnya. Terbersit ingin menirunya. Lalu ketika melihat orangtua yang mampu mengantar anaknya menjadi shalih dan berakhlaq baik, itu adalah kesuksesan menurut saya. Sukses yang paling abadi yaitu bekal diakhirat nanti. Dan jika melihat ada seorang penyapu jalanan yang mampu menghadirkan kebersihan karena kerja keras dan ketekunannya, maka itupun adalah kesuksesan. Dan seorang seniman yang dengan karyanya bisa menggugah nurani seseorang untuk bisa lebih mengenal Allah dan sebagai perantaranya untuk melakukan kebaikan, itupun sukses yang sebenarnya. Mungkin banyak lagi kisah sukses lainnya yang berada disekitar, yang tidak hanya patut jika dinilai dari segi materi tapi nurani.

Jurus berbagi dan bermanfaat. Itulah ujung sebuah kesuksesan. Menjadi pelita bagi sekitar. Seorang yang sukses secara materi kemudian dia bisa berbagi dan bermanfaat, itulah yang saya maknai kesuksesan sebenarnya. Yang tulus dari dalam hati. 

Saya belum sukses secara materi. Dengan kemampuan yang saya punya, saya harap saya bisa bermanfaat. Tidak perlu hingga dikenal oleh banyak orang. Cukup dengan sedikit yang saya miliki, bisa menjadi pemberat amal shalih saya kelak. Aamiin. Seperti itu kesuksesan yang saya harapkan. Diantara gelimang kekurangan dan keburukan saya. Karena saya yakin tiap orang dianugerahi kemampuan, saya akan belajar memanfaatkan kemampuan saya untuk berbagi. Sedikit atau banyak, biar Allah yang menilai dan biar Allah yang menjadi saksi.

Allahua'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar