Artikel

Sabar Yang Tergadai

Hidup adalah perjalanan. Banyak episode ditorehkan semenjak awal tangis kita mengguncang dunia. Episode-episode hidup penuh makna, meski dalam perjalanannya tidak selalu ada kisah indah bertabur bunga.

Oh Allah. Beragam episode hidup kau ciptakan untuk kami, HambaMu. Karena Engkau begitu cinta kepada kami, Kau tidak ingin kami kembali kepadaMu tanpa adanya bekal yang mencukupi. Sungguh Allah, kami sepertinya -mungkin- lebih siap pada perjalanan bertabur bunga daripada perjalanan diatas bara api. Namun tidak seperti itu. Tidak boleh kami seperti itu. Engkaulah sebaik-baik pembuat rencana. Meski kami selalu menganggap bahwa rencana kamilah yang terhebat. 

Allah, sudah beberapa bulan ini hujan enggan turun ke bumi. Bumi tempat kami mengais kasih dan sayangMu. Mentari begitu gagah diatas singgasananya, cahayanya seolah sinaran kasih sayangMu yang teramat dalam. Maaf Allah, kami memohon ampun padaMu. Seringkali kami lalai dan selalu menyalahi anugerah panasMu. Bisa jadi dengan tiada panas, maka banyak ekosistem dibumi tidak berjalan baik. Fotosintesa tidak menjadi sempurna. Tapi disaat yang tidak terduga, Kau menurunkan hujan secara sempurna. Subhanallah Walhamdulillah Allahu Akbar. Sejuk dan basah. Tanah seolah kembali bergairah tersiram air hujan yang seolah tiada henti. Bau hujan seolah memanjakan indera penciuman. Menyejukkan tiada beban. Sekali lagi, Maaf Allah. Sudah hujan Kau turunkan untuk menyirami bumi yang gersang, masih saja kami suka mengumpat menyatakan ketidaksukaan. Menjadi sulit bepergian, repot membawa payung, baju basah, motor sering kotor dan lainnya. Entah itu hanya sekedar bagian buruk dari diri kami atau memang kami yang suka mengeluh.  Rabbighfirlii...

Allah, kami ingin belajar dari tanah. Tanah yang dengan sabarnya, dalam kegersangannya tetap menanti RahmatMu untuk mengairinya. Dengan kesabaran yang tiada berujung. Dengan kesabaran sebagai salah satu hambaMu. Mereka tiada mampu bersuara. Tapi kami yakin, ia senantiasa berzikir padaMu Sang Penciptanya. Atau seperti perumpamaan pantai yang senantiasa menanti datangnya ombak. Tiada pernah risau ia menggugat. Selalu bersabar dalam keheningan bersama gemulai nyiur yang melambai. Ya, memang begitulah diciptakan. Sunnatullah. Sebuah pelajaran hidup untuk bersabar, karena yang ditunggu pasti akan tiba pada waktunya. 

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya.” 
(Az Zumar: 10)

“Sesungguhnya Kami akan memberikan cobaan sedikit kepadamu semua seperti ketakutan, ketaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, kemudian sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” 
(Al Baqarah: 155)

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan mengerjakan shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(Al Baqarah: 153)

“Amat menakjubkan keadaan orang mu’min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seorangpun melainkan hanya untuk orang mu’min itu belaka. Apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Apabila ia ditimpa musibah, maka iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya.” 
(HR. Muslim)

Berkali-kali Allah menyisipkan tentang sabar dalam Al Qur'anul Karim. Berbagai janji Allah sebagai bentuk balasan bagi orang-orang yang bersabar, karena memang tidak mudah melewati ujian kesabaran. Jika belum bisa, maka bersama-sama kita belajar. Belajar, terus menerus. Hingga pun terjatuh, maka kita akan saling membangkitkan diri karena Allah. Ya, karena Allah. Semua karena Allah. Bismillah. Selamanya kita hanya bisa berusaha. 

Allahua'lam.

Sukses Itu Bermanfaat ??

Membingungkan. Sangat membingungkan. Paling tidak untuk orang seperti saya. Memaknai sebuah kesuksesan. Dimana-mana selalu digambarkan, kesuksesan adalah sebuah pencapaian yang tidak lain ukurannya adalah materi. Ya, materi. Uang, harta benda, tempat tinggal, kenyamanan, berlibur keliling dunia dan lainnya. Entah itu hanya sebuah persepsi yang hadir dari otak saya saja yang lahir dari fenomena sekitar. Tapi tak bisa dipungkiri, kenyataan mayoritas dilapangan seolah membenarkan persepsi saya.

Berbicara kaya, siapa yang tidak ingin kaya. Bahkan manusia yang hartanya sudah bergelimang pun pasti akan berfikir untuk menolak jika ada yang menyodorkan lagi tumpukan harta kepadanya. 

Tidak salah juga jika ukuran kesuksesan adalah materi. Materi yang didapat dengan tidak mudah, mengorbankan seluruh kemampuan, potensi, berderai airmata, perjuangan tanpa henti. Tapi bagaimana jika ada seseorang yang sudah melewati kondisi tersulit dan maksimal untuk meraih materi namun kenyataannya kini, mereka tetap saja dilanda kekurangan harta. Musnah pula makna kesuksesan jika hakikatnya adalah harta. Karena jika sukses selalu saja harus dimaknai dengan yang berbau materi, maka semua orang akan mengejar kesuksesan itu dengan berbagai cara. Yang penting sukses. Dimana letak harapan untuk mencari keberkahan ?

Beberapa kawan, mengajak saya untuk "sukses". Sukses dengan makna seperti diatas. Materi. Bukan saya antipati terhadap materi. Saya hidup pun sedikit banyak memerlukan materi sebagai sarana. Kembali pada sukses, ajakan dari beberapa kawan. Bagaimanapun, saya tidak akan bisa melakukan sesuatu yang hati saya pun tidak menyenangi. Terdengar klise. Seperti itulah. Bagi saya kenyamanan hati, ketenangan adalah segalanya dalam melakukan sesuatu. Walhasil, beberapa kali saya menolak ajakan sukses itu dan tak tahu kenapa, beberapa kawan itu muncul hanya pada saat menawarkan jalan untuk sebuah "kesuksesan". Saat saya menolak, mereka teratur pergi dan menghilang.  Tidak ingin berburuk sangka. Tidak ada yang salah dengan jalan kesuksesan itu -bagi saya yang awam-. Jika tidak sesuai dengan hati nurani dan karena terpaksa, buat apa diteruskan.

Mungkin saya ingin mengganti kata sukses itu dengan kata manfaat. Ya, manfaat. Bagi sesama, seluruhnya. Meskipun lagi lagi saya masih jauh untuk menjangkaunya. Tapi dengan kata manfaat, sedikitnya kita masih akan bisa berguna dengan apa yang kita miliki. Sedikit saja. Lama-lama menjadi bukit. Sedikit saja. Kemudian menjadi sebuah kebiasaan. Sedikit dan lupakan. Indahnya membayangkan itu. 

Jika membaca berita atau menonton televisi mengenai sosok yang tidak istimewa dari segi fisik, harta atau lainnya, tapi dia memiliki suatu kemanfaatan yang luar biasa bagi orang sekitarnya. Dengan kemampuan yang mungkin tidak dipelajari lewat bangku sekolah atau perguruan tinggi. Tapi sebuah ilmu sederhana yang seketika ilmu itu "meng-kaya-kan" dirinya dengan jurus "berbagi". Amazing. Selalu amazing mata ini jika melihatnya. Terbersit ingin menirunya. Lalu ketika melihat orangtua yang mampu mengantar anaknya menjadi shalih dan berakhlaq baik, itu adalah kesuksesan menurut saya. Sukses yang paling abadi yaitu bekal diakhirat nanti. Dan jika melihat ada seorang penyapu jalanan yang mampu menghadirkan kebersihan karena kerja keras dan ketekunannya, maka itupun adalah kesuksesan. Dan seorang seniman yang dengan karyanya bisa menggugah nurani seseorang untuk bisa lebih mengenal Allah dan sebagai perantaranya untuk melakukan kebaikan, itupun sukses yang sebenarnya. Mungkin banyak lagi kisah sukses lainnya yang berada disekitar, yang tidak hanya patut jika dinilai dari segi materi tapi nurani.

Jurus berbagi dan bermanfaat. Itulah ujung sebuah kesuksesan. Menjadi pelita bagi sekitar. Seorang yang sukses secara materi kemudian dia bisa berbagi dan bermanfaat, itulah yang saya maknai kesuksesan sebenarnya. Yang tulus dari dalam hati. 

Saya belum sukses secara materi. Dengan kemampuan yang saya punya, saya harap saya bisa bermanfaat. Tidak perlu hingga dikenal oleh banyak orang. Cukup dengan sedikit yang saya miliki, bisa menjadi pemberat amal shalih saya kelak. Aamiin. Seperti itu kesuksesan yang saya harapkan. Diantara gelimang kekurangan dan keburukan saya. Karena saya yakin tiap orang dianugerahi kemampuan, saya akan belajar memanfaatkan kemampuan saya untuk berbagi. Sedikit atau banyak, biar Allah yang menilai dan biar Allah yang menjadi saksi.

Allahua'lam

Ludahmu Diwajahku

Kembali, pagi ini melanjutkan aktifitas seperti biasa. Aktifitas biasa yang selalu ada warna warni yang terselip didalamnya. Hikmah yang terpendam dari sebuah kisah sederhana. Dari debu pagi yang mengawali hari. Dari kumpulan keringat demi hidup yang lebih baik.

Dipinggir jalan, saya menunggu Kopaja yang akan mengantar saya ketempat saya bekerja. Tidak lama, Kopaja itu datang dan saya segera menaikinya. Begitu masuk, saya terkejut oleh suara seorang Bapak yang berbicara dengan nada kasar dan keras dan ditujukan kepada seorang pemuda yang yang berada didekatnya. Yang saya dengar dari perkataan sang bapak adalah :
"Kurang ajar, buang ludah sembarangan. Mending kalau yang kena itu baju, ini pas sekali dibibir."

Berulang kali saya dengar bapak itu mengulang perkataannya, seolah hendak mengeluarkn amarahnya. Padahal pemuda itu sudah berkali-kali meminta maaf dan saya lihat ada raut penyesalan diwajahnya. 

Beberapa saat, bapak itu tidak juga berhenti memaki, memarahi dan berkata kasar. Mungkin, seluruh penumpang tahu dan mendengar peristiwa itu tetapi tidak ada yang berani yang bertindak atau melerai. Bisa jadi akan berdampak lebih buruk atau bisa menyulut emosi si bapak jika ada yang "ikut campur".

Sampai pada puncaknya, tiba-tiba bapak itu berdiri dan menampar wajah si pemuda. PLAAKK. Reflek saja si pemuda menutup wajahnya, mungkin terasa sakit. Dan bapak itu masih tetap berbicara kasar dan memaki, meski kata maaf juga terus diucapkan si pemuda.

Kemudian si pemuda menjauh dari si bapak yang duduk dibelakang dan berjalan agak kedepan. Kemarahannya sudah agak mereda, mungkin telah terlampiaskan dengan tamparan tersebut. Saya yang semenjak awal memperhatikan peristiwa tersebut lalu beralih memperhatikan si pemuda. Entah kenapa saya menjadi sangat miris. Saya bisa ambil kesimpulan bahwa si pemuda kemungkinan besar tidak sengaja membuang ludah ketika ternyata ludahnya itu tepat mengenai bibir si bapak. Kejadian mungkin terjadi tidak lama sebelum saya naik Kopaja tersebut.

Saya masih mengamati si pemuda yang berdiri membelakangi saya. Tampak dia terus menyeka matanya dengan sebelah tangannya. Saya pikir dia pasti terkejut dan tidak mengira akan mengalami kejadian seperti itu. Saat si pemuda mendapatkan tempat duduk tept disamping saya, saya lihat pemuda itu menangis. Saya lihat airmatanya mengalir deras. Dia menangis tanpa suara. Tangisan yang menandakan penyesalan yang mendalam atau karena rasa malu. 

Terbersit rasa kasihan terhadap pemuda itu. Ia pasti sangat menyesal dengan kejadian tersebut. Jika memang dia sengaja melakukan hal buruk atau minimal dia bukan seorang yang baik, dia akan melawan atau balas mencaci saat si bapak tiada henti memakinya. Tapi itu tidak dilakukannya. Karena dia mungkin memang merasa bersalah. 

Si bapak yang (mungkin) pantas merasa kesal karena ulah seorang pemuda yang menurutnya berlaku tidak sopan atau bahkan kurang ajar. Dan perbuatan tidak sengaja seorang pemuda yang mengakibatkan dirinya menyesal. 

Pelajaran yang sangat berharga saat diri hendak melakukan aktifitas. Semoga bapak itu diberi kelapangan hati untuk bisa memaafkan dan si pemuda diberi kesabaran serta menjadi pembelajaran untuk berhati-hati dalam bertindak, sepele apapun suatu perbuatan.

Semoga peristiwa tersebut menjadi pengingat pribadi yang seringkali lalai. Karena dari peristiwa yang sepele dan sering terlewat, menyimpan hikmah yang mendalam.

Allahua'lam

Desaku Yang Kucinta...

19 Agustus 2012, bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 1433 Hijriyah, saya dan Ibu saya pergi menuju kampung halaman pada sore harinya. Sudah dua tahun saya tidak mengunjungi tanah kelahiran Ibu saya, yang ternyata ketika datang tidak jauh berbeda dengan dahulu. Tetap sunyi, entah karena memang seperti itu atau mayoritas penduduk banyak yang merantau meninggalkan kampung halaman. Setidaknya semenjak kecil saya pulang kampung, tidak pernah saya temui keramaian bahkan saat perayaan Idul Fitri. 

Kampung halaman saya berada di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Semarang, Kotamadya Salatiga, Kecamatan Bringin, Desa Pakis. Saya selalu bilang pada kawan saya, bahwa kampung saya berada dipedalaman. Kenapa ? Karena disana suasana masih serba alami, pohon-pohon masih tinggi menjulang, sawah-sawah menghampar, bukit-bukit hijau seolah menjadi batas sudut desa. Dan tidak semua provider memiliki sinyal yang baik disana, juga provider yang tergolong tidak baru. 

Desa Pakis masih didominasi oleh rumah-rumah yang berdinding kayu dan beralaskan tanah, meski kini sudah terlihat rumah-rumah tembok dan lantai keramik. 

 *****



Rumah Mbah saya
Beberapa tahun lalu, ketika saya masih sekolah dan pulang kampung, rumah nenek saya masih sangat sederhana. Sama sekali tidak ada listrik, hanya menggunakan cahaya dari sumbu kompor  yang dimasukkan kedalam kaleng dan menggunakan bahan bakar minyak tanah atau lampu templok (juga berbahan bakar minyak tanah). Hasilnya, ketika malam datang dan hendak pergi keluar maka menggunakan penerangan tersebut atau blarak (daun kelapa kering yang dibakar). 

Karena tidak ada listrik, maka TVpun tidak ada. Hiburan saya saat pulang kampung adalah bercengkerama dengan saudara dan bermain disekitar rumah. Memberi makan ternak, pergi kesawah, main di kali dan sebagainya.

Dulu, di desa saya belum banyak yang memiliki kamar mandi (MCK) atau sumur ditiap rumahnya. Untuk MCK mengandalkan kali atau sungai yang memiliki mata air yang banyak. Pada musim penghujan, air begitu melimpah sehingga tidak sulit untuk mendulang air, sedangkan jika musim kering datang maka debit air disungai menjadi jauh berkurang dan sumur resapan menjadi terasa sangat dalam.

Jalan-jalan disepanjang menuju kerumah nenek saya, banyak lubang dan berbatu. Dengan bentuk jalanan yang naik dan turun, saya menganggap itulah kekhasan dari desa saya. Tepat didepan rumah nenek saya, jalan naik dan turun itu berada. Sangat terjal, tapi tidak menghalangi kendaraan bermotor untuk lalu lalang. Jika hujan turun, maka jalanan akan otomatis licin. Untuk ke kali yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah pun saya seringkali merasa takut.  Alhamdulillah, sekarang jalan-jalan sudah banyak yang diperbaiki.

Masih segar dalam ingatan, ketika saya bermain diantara pohon bambu yang banyak terdapat disebelah rumah. Begitu sederhana, tetapi nikmat terasa. Dengan adik dan kakak saya. Membuat rumah-rumahan dengan kerangka kayu dan dilapisi daun pisang sebagai dinding dan atapnya. Atau ketika suatu kali ikut dengan Paman mencari rumput disawah. Ketika mandi dikali dan mendadak gerombolan kerbau lewat disebelah saya. 

Kemudian, saya merasa sangat ingin BAB pada malam hari sedangkan dulu di desa saya belum ada kamar mandi dan mengandalkan kali, akhirnya ditemani ibu, saya melakukan hajat saya dengan diterangi blarak dialiran air dekat rumah. Memang sebelum adanya WC (kini sudah dibangun WC bersama dimasjid), permasalahan BAB menjadi masalah bersama. Masyarakat biasanya BAB di kali atau dialiran air atau terkadang ditanah yang kemudian ditimbun tanah. 

Sekarang listrik sudah ada di desa saya, meskipun tidak semua jalan terdapat lampu jalan yang mengakibatkan ketika malam datang tidak banyak orang yang keluar. Masyarakat juga sudah banyak yang membuat sumur resapan dirumahnya masing-masing sehingga tidak perlu jauh-jauh jika akan mandi.

Hingga kini, yang masih bertahan dikampung saya adalah penggunaan kayu bakar untuk memasak. Mereka tidak berpengaruh oleh kelangkaan atau kenaikan harga gas elpiji. Penggunaan yang bijak juga tidak membuat ekosistem menjadi rusak. Mata pencaharian yang sebagian besar bertani, membuat mereka bisa mengandalkan kebutuhan pokok dari hasil tani mereka. Selain menyambi dengan menanam sayur mayur yang hasilnya juga dijual dipasar selain untuk konsumsi sendiri. 

Ada yang hal yang saya heran dari keluarga saya didesa, mereka jarang sekali menyantap makanan yang berjenis daging. Ketika saya menginap, makanan yang disajikan tidak terlepas dari sayur mayur dan hanya sesekali berlaukkan ikan atau ayam.  Tapi itulah kenikmatan yang tidak saya temui saat kembali ke kota.

Kejadian lucu yang masih teringat hingga sekarang, ketika Mbah lelaki saya (Mbah Muhbariyah) mengajak saya pergi kemasjid. Waktu itu usia saya kurang lebih lima tahun. Saya tidak dipakaikannya mukena selayaknya perempuan pada umumnya ketika akan sholat. Tapi Mbah saya memakaikan saya peci dan mendirikan saya disebelahnya yang notabene adalah shaf untuk kaum lelaki. 

Saya salut dengan Mbah saya itu, meskipun usia sudah tidak muda lagi (sekarang kurang lebih delapan puluh dua tahun) tapi semangat beribadahnya tidak kendur. Ketika saya tidak menemui banyak anak muda datang ke masjid, justru Mbah saya selalu sholat berjamaah di masjid. Dan memang, sejak beberapa tahun yang lalu, saya amati tidak banyak anak muda datang ke masjid. Masjid kebanyakan dihuni oleh Mbah-Mbah sepuh dan bapak-bapak. 

*****

Libur lebaran adalah waktu kumpul-kumpul keluarga. Itulah yang selalu terjadi saat pulang kampung dan bertepatan dengan lebaran. Semua keluarga kumpul menjadi satu. Satu rumah bisa menjadi penuh mendadak dengan banyak penghuni. Mbah saya, Paman saya dan anak-anaknya, Bibi saya dan anak-anaknya dan saya sendiri dan keluarga dari Jakarta. Jika dihitung bisa belasan orang. Ramai tapi menyenangkan. Karena jika hari biasa maka semuanya akan kembali dengan aktifitas masing-masing. Maka libur lebaran menjadi ajang saling melepas rindu dan silaturrahim. Libur lebaran adalah waktu kumpul-kumpul keluarga. Itulah yang selalu terjadi saat pulang kampung dan bertepatan dengan lebaran. Semua keluarga kumpul menjadi satu. Satu rumah bisa menjadi penuh mendadak dengan banyak penghuni. Mbah saya, Paman saya dan anak-anaknya, Bibi saya dan anak-anaknya dan saya sendiri dan keluarga dari Jakarta. Jika dihitung bisa belasan orang. Ramai tapi menyenangkan. Karena jika hari biasa maka semuanya akan kembali dengan aktifitas masing-masing. Maka libur lebaran menjadi ajang saling melepas rindu dan silaturrahim.

Karena saya pulang kampung bertepatan dengan Idul Fitri, maka suasana hangat silaturrahim sangat terasa. Mungkin ada yang sudah mengetahui tradisi yang dinamakan BADAN. Bukan tubuh, tapi semacam silaturrahim kerumah saudara ketika Idul Fitri. Meskipun jarak rumahnya tidak bisa dibilang dekat, tapi tradisi semacam itu tetap ada dan semoga akan selalu ada. Pada beberapa kali badan, saya ikut bersama rombongan sepupu, bibi dan paman saya. Mengunjungi saudara-saudara tua (Mbah) yang masih hidup atau keturunannya. Meskipun jika ditanya, "ini mbah siapa dan itu mbah siapa", saya pasti akan menggelengkan kepala tidak tahu karena lupa. Ya, karena teramat banyaknya. Tapi badan, bisa sangat menyenangkan karena menyicipi makanan yang tersaji. Dari rumah kerumah dan dalam sehari mengunjungi beberapa rumah. Nikmatnya....

Kebersamaan itu pula yang membuat saya kagum pada mereka. Jika ada yang lewat depan rumah, mereka akan saling menyapa dan menawarkan untuk mampir (meskipun tidak kenal). 

Kebersamaan yang kemudian masih melekat dalam ingatan adalah, saat Ibu saya bercerita. Beberapa tahun lalu, saat nenek saya wafat (Mbah Nafisah) pada malam hari sekitar pukul sepuluh malam. Para tetangga dengan sigap tanpa menunggu datangnya mentari pagi langsung membantu mengurus pemakaman nenek saya pada malam itu juga hingga selesai sekitar pukul tiga pagi. Sesuai sunnah Rasul, mengurus jenazah harus disegerakan. 

Di desa saya, pemakaman sangat berbeda dengan di kota. Jika di kota, pemakaman dibuat sekokoh atau seindah mungkin tapi tidak di desa saya. Nisan yang digunakan hanya dua batang kayu tanpa ukiran nama almarhum, tanggal lahir dan wafatnya. Beberapa kali saya ziarah ke makam nenek saya, saya selalu bingung. Tetapi Paman saya yang selalu membimbing saya. 

Makam Mbah saya, Mbah Nafisah
Makam nenek saya hanya ditandai dua buah patok kayu dan batu yang ditengahnya ditanam satu tanaman dan disekelilingnya dibuat pembatas dari batu seadanya. Satu pelajaran yang mengingatkan, bahwa kesederhanaan tetap mengikuti bahkan ketika maut menjelang.

*****

Sekarang musim panas, sawah-sawah terlihat retak karena belum teraliri air. Meskipun panas, pohon-pohon yang tinggi di dekat rumah mampu menghalau terik matahari hingga menjadikannya tetap sejuk. Bersantai di bale depan rumah sambil ngobrol dan makan makanan ringan dengan saudara, ditemani semilir angin, menjadi saat-saat yang nikmat.  



Dan akhirnya kerinduan saya untuk ke sungai Grenjeng yang berada didekat rumah tercapai. Karena beberapa kali pulang kampung, saya tidak mendapat izin untuk kesana dengan alasan sungai itu sekarang sudah sangat sepi, jarang ada orang lalu lalang sepert dulu. Dan libur lebaran tahun ini, saya bersama adik sepupu saya main di sungai Grenjeng. Hanya beberapa menit dari rumah, melewati pohon-pohon bambu, kami sampai di sungai. Berfoto-foto dan bermain air. Karena sekarang sedang musim kering, maka debit air di sungai tidak banyak. Sungai yang diapit oleh pohon-pohon yang tinggi menjulang dan bersebelahan dengan persawahan terasa sangat sunyi, hanya aliran air yang menjadi irama. Meski siang hari, tapi terlihat lebih gelap. Tidak lama saya berada disana dan kemudian kembali pulang. 

Kabut Diantara Cahaya

Ludah terbuangpun, bisa kembali ditelan
Saat kehausan meraja 
Sungguh, rindu ini begitu menggigit
Dan seketika rasa mampu terbersit

Ada pengorbanan tak biasa
Pada hati yang luar biasa

Ini adalah sementara
Hanya kabut diantara cahaya
Seketika lenyap
Lalu menjadi nuansa

Asa itu menggantung dilangit
Teruntuk Illahi Rabbi
Hanya pada Illahi Rabbi
Sedang makhuk adalah fana
Biasnya pun membuat pedih

Masa ini adalah sementara
Bukti cinta dari Sang Pencipta
Biar saja semua memandang hina
Biar Tuhan tetap didalam dada