Disebuah sudut
Dunia menghias kamar-kamar
Ada ibu memasak ada ayah bekerja
Lalu sembahyang hingga gugur beban-beban
Ada anak asyik bermain
Lalai hingga lepas waktu sembahyang
Disatu cerita dibalik tembok
Tuhan berperan sebagai figuran
Timbul tenggelam tergerus masa
Yang kemudian terukir bayang-bayang
Dan kalam Tuhan hanya pelengkap perabot rumah tangga
Disebuah sudut
Ada anak meregang nyawa
Ada ayah lepas dari pekerjaan
Dan ibu menangis
Di satu cerita dibalik tembok
Tuhan berperan sebagai bintang
Teruntai puja puji
Pun beragam keluh hinggap dalam sujud
Disini cerita bergulir
Dibilik penyesalan yang terpatri
Dalam jejak menempuh akhirat
Dan Tuhan belum tersemat didada !!!!!
-2007-
Malam
Malam menyemai sunyi
Sinaran bintang tenggelam di balik malam
Awan kelam hadir merangkul bulan
Dan menutup pendaran
Irama angin membelai malam
Jadi sayu pun memburai haru
Sepotong cahaya
Enggan Nampak
Mungkin lelap berkawan dongeng angin malam
Berselimut malam
Bermandikan kelam
-2007-
Sinaran bintang tenggelam di balik malam
Awan kelam hadir merangkul bulan
Dan menutup pendaran
Irama angin membelai malam
Jadi sayu pun memburai haru
Sepotong cahaya
Enggan Nampak
Mungkin lelap berkawan dongeng angin malam
Berselimut malam
Bermandikan kelam
-2007-
Allah Ada Di Dekatku
Allah, ada di dekatku
Karena Allah memang begitu dekat
Aku meminta Allah mengabulkan
Ketika doaku tertahan
Mungkin buruk atau berlabuh pahala
Allah ada di dekatku
Menyayangiku karena aku ingin di sayang
Bahkan jika terfikirkan niat buruk
Allah melindungiku
Tak biarkan aku tenggelam di samudera dosa
Allah ada di dekatku
Membantuku berlari kepadaNya
Kawan-kawan shalihku adalah perantara
Penyejuk qalbu penambah ilmu
Allah ada di dekatku
Ketika aku tersungkur lemah
Dia membantuku berdiri
Sucikan aku dari segala kehinaan
Penolongku dari segala kekhilafan
Allah ada di dekatku
Lebih dekat dari urat nadiku
21 Agustus 2011
Karena Allah memang begitu dekat
Aku meminta Allah mengabulkan
Ketika doaku tertahan
Mungkin buruk atau berlabuh pahala
Allah ada di dekatku
Menyayangiku karena aku ingin di sayang
Bahkan jika terfikirkan niat buruk
Allah melindungiku
Tak biarkan aku tenggelam di samudera dosa
Allah ada di dekatku
Membantuku berlari kepadaNya
Kawan-kawan shalihku adalah perantara
Penyejuk qalbu penambah ilmu
Allah ada di dekatku
Ketika aku tersungkur lemah
Dia membantuku berdiri
Sucikan aku dari segala kehinaan
Penolongku dari segala kekhilafan
Allah ada di dekatku
Lebih dekat dari urat nadiku
21 Agustus 2011
Marah
Batin terhimpit otak menyempit dan hati terjepit
Buram kelam gulita
Tak tersentuh tak terucap
Hanya mengawan dan menguap
Udara menjadi deru tak bertuan
Bahasa menjadi bisu
Rebahkan !!
Runtuhkan !!
Biar ia retak berkeping
Bahkan menjadi abu
Halau semua tatap
Tulikan semua kata
Walau sekedar merayu
Berpalinglah
Biarkan ia kembali menjadi hantu
Dan hilang
4 Mei 2011
(terinspirasi ketika diri ini sedang marah)
Buram kelam gulita
Tak tersentuh tak terucap
Hanya mengawan dan menguap
Udara menjadi deru tak bertuan
Bahasa menjadi bisu
Rebahkan !!
Runtuhkan !!
Biar ia retak berkeping
Bahkan menjadi abu
Halau semua tatap
Tulikan semua kata
Walau sekedar merayu
Berpalinglah
Biarkan ia kembali menjadi hantu
Dan hilang
4 Mei 2011
(terinspirasi ketika diri ini sedang marah)
Apalagi Yang Tersisa Kini
Apalagi yang tersisa kini
Dari erangan panjang
Menembus rasa sakit mahadahsyat
Merintih tak terperi
Bertahan menghadang serangan maut
Apalagi yang tersisa kini
Dari buaian hingga dekapan yang melenakkan
Air susu membaur
Menyatu dalam raga
Keluh dan peluh pun luluh
Disambut tawa jundi pemberani
Apalagi yang tersisa kini
Kala cita merangkak naik
Langitpun kian nampak dihadapan
Sementara gurat pilu
Bernaung dipersembunyian malam
Matapun berair
Sang buah hati
Luput hadirkan riang
Menolehpun terasa enggan
Apalagi yang tersisa kini
Kala kerinduan menjadi irama desah nafasnya
Biar raga menyapa tapi hati kian berjarak
Sunyi kini dalam kerentaan
Hanya mampu menabur jejak-jejak doa
Akhirnya apalagi yang tersisa kini
Kala usia berfatwa
Sehembus hawa melayang diangkasa
Dengan bunda tiada bernyawa
2007
Dari erangan panjang
Menembus rasa sakit mahadahsyat
Merintih tak terperi
Bertahan menghadang serangan maut
Apalagi yang tersisa kini
Dari buaian hingga dekapan yang melenakkan
Air susu membaur
Menyatu dalam raga
Keluh dan peluh pun luluh
Disambut tawa jundi pemberani
Apalagi yang tersisa kini
Kala cita merangkak naik
Langitpun kian nampak dihadapan
Sementara gurat pilu
Bernaung dipersembunyian malam
Matapun berair
Sang buah hati
Luput hadirkan riang
Menolehpun terasa enggan
Apalagi yang tersisa kini
Kala kerinduan menjadi irama desah nafasnya
Biar raga menyapa tapi hati kian berjarak
Sunyi kini dalam kerentaan
Hanya mampu menabur jejak-jejak doa
Akhirnya apalagi yang tersisa kini
Kala usia berfatwa
Sehembus hawa melayang diangkasa
Dengan bunda tiada bernyawa
2007
Langganan:
Postingan (Atom)