Artikel

Berfikir, Melakukan Dan Berdo'a

Bahwasanya kita hanya mampu berfikir, melakukan dan berdoa. Itu saja, tak lebih.

Allah tak akan menolong hambaNya, selama hambaNya itu hanya memenuhi hari-harinya dengan berbagai fikiran dan khayalan tanpa ada satu pun perbuatan untuk mewujudkannya. Melakukan sesuatu akan menjadi tak sempurna jika tak ada rencana yang terfikirkan terlebih dahulu. Allah pun akan melihat kesungguhan hambaNya untuk melakukan suatu usaha jika hambaNya mengiringi usahanya tersebut dengan berdoa.

Jangan pernah melelahkan diri dengan menengadahkan kepala kita untuk melihat puncak terlalu lama, sedangkan jalan setapak tempat kita berdiri terasingkan dari tapak kita.

Semua Bermula Dari Mimpi

Teruslah bermimpi
Tapi jangan jadi pemimpi

Itu adalah salah satu dari kata mutiara yang akan selalu saya ingat. Betapa semua kesuksesan berawal dari mimpi. Dengan mimpi, kita menjadi lebih mengerti, bagaimana keadaan kita di masa depan. Dengan mimpi sebagai tujuan, kita dapat menentukan dari sekarang arah mana yang akan kita tuju untuk mencapai mimpi kita.

Teruslah bermimpi, tapi jangan jadi pemimpi. Kata-kata yang sederhana tapi memiliki arti yang sangat dalam. Tatkala banyak orang yang terbuai dalam mimpi-mimpi yang mereka buat tanpa ingin bangun untuk mengakhiri mimpi tersebut. Mereka hidup di dunia nyata tapi kehidupannya tak sesuai dengan realitas yang ada. Mereka bermimpi untuk hidup enak, menjadi orang kaya, punya mobil, punya rumah mewah tapi tak pernah ada usaha. Duduk bersantai tanpa ada gerakan untuk menjemput semua mimpi-mimpi itu.

Sang Kontraktor

Beruntung bagi mereka yang memiliki rumah tinggal di dunia ini tanpa harus mengontrak. Tapi tak sedikit mereka yang harus membayar uang sewa rumah tiap bulan demi dapat tinggal di kediaman yang layak yang dapat melindungi mereka dari berbagai gangguan baik dari luar maupun dari dalam.

Rumah, pada hakikatnya kebutuhan manusia yang utama. Termasuk kebutuhan primer. Dari rumah itulah semua berawal. Bahkan pendidikan awal bagi seorang anak di mulai dari sana. Tak salah banyak orang tua yang telah mempersiapkan kebutuhan primer tersebut untuk keluarganya kelak sebelum mereka menikah.

Allah Ada Di Dekatku

Ternyata Allah begitu dekat, melebihi dekatnya urat nadi pada tubuh kita.

Pada Qur’an Surat Al- Baqarah : 186

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Bahkan jika kiata berjalan mendekat kepada Allah, Allah akan berlari menyambut kita. Kasih sayang Allah begitu terasa, walaupun ketika kita dalam keadaan sulit sekalipun. Karena Allah tak inginkan kita lemah jika hanya memberikan kita kesenangan dan kemudahan dan Allah tak inginkan kita terus menerus berurai airmata tanpa di selingi kebahagiaan yang menerbitkan rasa syukur.

Memaksa Sabar

Sore itu Shafiyyah ingin cepat pulang kerumah. Ia pun izin untuk pulang terlebih dahulu setelah waktu kerjanya berakhir. Meskipun ada beberapa kerjaan yang belum seleasi, ia tetap bertekad ingin pulang. Kelelahan yang membuatnya ingin cepat pulang. Sejak pagi, ia merasakan badannya kurang fit. Namun tidak disangka, ketika ia sudah berada di bus kota. Sayup-sayup terdengar azan maghrib. Ia sadar bahwa tadi ia pulang pukul setengah enam lewat. Menuju jalan raya, ia harus berjalan kaki selama kurang lebih dua puluh menit, sedangkan waktu maghrib pukul enam. Jadilah dilanda rasa gelisah karena perjalanan masih jauh sedangkan ia belum menunaikan sholat maghrib. 

Saat di bus, ia terus berzikir serta berdoa supaya diizinkan untuk dapat melaksanakan sholat maghrib. Ia lihat jalanan agak macet sehingga perjalanan sedikit terhambat. Hari semakin gelap. Sudah gelisah, ditambah oleh ulah sopir bus yang seenaknya menurunkan penumpang dan menyuruh penumpang untuk berganti bus yang berada dibelakangnya. 

Shafiyyah terus berzikir. Sesekali melihat jam yang tertera dihape-nya. Ia berharap supaya detik bergerak lebih lambat dari biasanya. Jarak yang ditempuh sudah semakin dekat dengan lokasi tempat Shafiyyah berganti kendaraan yang kedua. Memang, selama ini Shafiyyah harus berganti angkota dua kali menuju tempat kerjanya.

Dengan tetap merasa gelisah, Shafiyyah turun dari bus dan bergegas mencari lokasi masjid terdekat. Alhamdulillah, ia hafal daerah itu sehingga dengan mudah menemukan sebuah masjid yang sudah tidak asing lagi namun belum pernah dijamah oleh Shafiyyah. Ia langsung menuju ke tempat wudhu wanita setelah sebelumnya bertanya letaknya kepada seorang ibu. Waktu sudah beranjak mendekati isya, Shafiyyah melaksanakan sholat maghrib sendirian.

Selesai sholat, Shafiyyah berjalan ke tempat biasa ia menunggu bus. Tempat yang strategis, fikirnya. Karena di lokasi itu, ia bisa menunggu dua bus dengan tujuan berbeda namun sama-sama melewati tempat tinggalnya. Menit demi menit ia lewati penantian itu dengan sabar. Sambil terus berzikir. Ia amati secara seksama arah datangnya bus yang dinanti. Lama-lama Shafiyyah merasakan lapar yang sangat, ia juga merasa kelelahan dan 
didera kantuk yang datang bersama. Hampir setengah jam ia menunggu. Tanda-tanda bus datang belum ada. Kemudian ia rasai, bahwa tangis mulai hadir. Ya, Shafiyyah menangis. Bukan menangis karena cengeng. Tapi karena tubuhnya belum terbiasa dengan jadwal baru di tempat bekerja yang mengharuskan ia bangun lebih pagi dan pulang lebih sore ditambah lokasi yang lebih jauh dari sebelumnya.

Dibalik masker yang selalu dikenakannya, airmatanya terus mengalir. Badannya semakin lemah dirasa. Perutnya mulai sakit karena lapar. Bukan ia tidak punya uang jika langsung membeli makanan atau makan di lokasi terdekat. Namun ia hanya ingin makan di rumahnya, memakan masakan ibunya yang pasti telah menanti untuk dinikmati. Ia takut jika pulang dalam keadaan kenyang, maka masakan sang ibu akan teronggok begitu saja tanpa tersentuh.

Dalam tangisya, seolah kemarahan membuncah didadanya. Ia ingin memaki Allah. Memprotes ketidakadilanNya. Mempertanyakan kasih sayangNya. Ya, hanya karena bus yang ditunggunya belum tiba juga. Tapi semua makian tidak ia keluarkan. Ia tetap memaksa untuk berfikir jernih. Ia tetap memaksa dirinya untuk berfikir positif. Ia tetap memaksa dirinya untuk bersabar. Shafiyyah takut, Allah tidak ridho akan dirinya  jika ia khilaf memaki Allah. Meskipun dalam dadanya terasa berat menahan tangis. 

Shafiyyah sadar, dirinya bukanlah orang suci. Beberapa hari yang lalu, ia mengalami hal yang sama, perlahan ia menyalahkan Allah atas ketidaksesuaian keinginan dan keadaan. Namun hanya sesal yang terjadi setelahnya, ia terus beristighfar. Shafiyyah berfikir, nikmat Allah jauh lebih besar, lebih banyak jika dibandingkan dengan segala cobaan yang Allah berikan. Allah bukan tidak sayang. Hanya Allah sedang melimpahkan kasih sayangNya dengan cara yang berbeda yang insyaAllah jika mampu melewatinya dengan baik akan menjadikan suatu pembelajaraan. Belajar sabar. InsyaAllah.

Akhirnya penantiannya berakhir. Dalam satu waktu, dua bus langsung datang. Ia pun menaiki pun yang terlebih dahulu tiba. Masih dengan merasakan lapar dan badan yang kurang baik, ia memaksa sabar hingga sampai di rumah. 

Dan hari ini, Shafiyyah mendapat pelajaran baru mengenai makna sabar yang acapkali terlupakan. Terlihat sepele, teramat sepelenya terkadang kita tidak menyadari jika kita telah mengabaikan kesabaran. Jika dari hal kecil saja kita sudah membiasakan diri untuk bersabar (InsyaAllah) maka kita akan terus belajar menggali kesabaran untuk hal yang lebih besar.

".....maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." 
QS. Yusuf : 18

Allahua'lam.